Kalau dunia ini tidak abadi maka untuk apa semua dibuat berarti? Bermain-main saja. Setiap keputusan yang diambil toh katanya sudah diatur oleh yang di Atas. Jalan yang diambil hanya dirasa lewat sekelebat. Seperti pemandangan yang dilihat dari jendela kereta api atau pesawat terbang atau bis angkutan umum. Tergantung berapa uang yang kau punya. Diam menatap semua berlalu. Putih kemudian perlahan hijau lalu biru langit yang perlahan redup abu-abu dan lama-lama berakhir menjadi hitam.
Hidup itu perjalanan, bukan? Nikmati saja. Begitu katanya. Kadang harus mengejar. Kadang harus rela. Merelakan semua yang ada. Yang dulu katanya baik-baik saja. Yang dulu katanya ke depan akan lebih baik. Namun pada nyatanya, aku masih hanya bisa diam duduk di sini. Menatap mereka berdua bermain sandiwara di panggung rumah tangga. Di sekelilingku? Tidak ada siapa-siapa. Bahkan seorang pun. Sendiri. Hal yang biasa. Makanya aku tak peduli mereka teriak apa. Anjing. Babi. Monyet. Biadab. Bajingan. Setan. Telingaku sudah tuli dengan semua itu. Biasanya aku menatap mereka tanpa ekspresi. "Basi!!!", dalam hatiku. Dari dulu juga begitu.
Lain kesempatan, aku menonton mereka sembari menikmati santapan harianku. Santapan yang menambah beban. Menambah berat segala anggota tubuh. Badan, pikiran, emosi, otak, hati. Kudiamkan saja mereka berkoar-koar. Ini. Itu. Ini. itu. Ini itu. Persetan. Kadang aku tak peduli. Kadang aku pura-pura peduli. Harus bagaimana lagi? Sebagai penonton yang baik, aku harus memberi komentar atau sekedar ucapan basa-basi setiap kali salah satu dari mereka berhenti sejenak dan bertanya "Lalu harus bagaimana?". Seolah aku ini aktris terkenal saja.
Mana aku tahu. Mana aku peduli. Kalian aktornya, bukan? Mainkan saja semuanya. Sesuka kalian. Nikmati saja. Hidup ini hanya sekali. Oh mungkin itu sebabnya semua harus dibuat berarti. Tapi aku tak peduli. Aku tak peduli lagi. Semua terasa begitu-begitu saja. Berjuta kali perasaan jengah datang. Berkali-kali. Aku ingin teriak. Aku ingin pergi. Jenuh melihat dialog yang sama, intonasi tinggi yang senada, raut muka yang serupa. Berbelit-belit, melengking nyaring, dan... palsu.
"Terserah", hanya satu kata dari mulutku yang dapat terucap. Berkali-kali. Aku sudah tak peduli. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Mereka pun kembali beradu mulut. Menyalahkan yang satu lalu menikam yang satu lainya. Meninggalkan seorang penonton setia palsu yang komat kamit sendiri dalam hati. Dalam gelap. Tak terlihat.
Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah...
The Kingdom of Narita
there was once this girl in reality land who imagine great things that no one would understands
Saturday, March 19, 2011
Terserah. Terserah. Terserah.
Monday, February 21, 2011
Perimeter Primer
Meratapi malam minggu ketiga bulan Februari tahun 2011 sama dengan menatap layar kosong komputer di depan wajahku. Hitam. Kosong. Rusak. Satu lagi, tak berfungsi. Tubuh CPU yang tidak dapat dinyalakan, keyboard yang sudah somplak, dan belum lagi kerusakan parah organ dalamnya. Komputer itu teronggok hampir terlupakan di pojok ruang tengah keluarga yang juga hampir terlupakan. Separuh bagian dari layarnya tertutup oleh serpihan debu abu-abu yang hampir hitam. Entah darimana debu-debu ini. Aku pernah mendengar bahwa 90% debu di rumah berasal dari kulit manusia atau serat-serat kain furnitur. Aku tiba-tiba bergidik geli memikirkan bagaimana tubuh manusia dapat terus menerus melepaskan serpihan kulit kecil tanpa terlihat oleh siapapun. Maksudku, sampai setebal debu-debu ini? Yaiks.
Apa yang sedang dilakukan orang lain sekarang, ya? Ada tiga kemungkinan pikirku. Yah, kalau tidak menghabiskan waktu dengan pacar, mungkin berkumpul dengan teman-teman sambil mengunjungi cafe atau mall di Jakarta. Pacar dan teman. Itu dua kemungkinan. Kemungkinan ketiga? Aku sedikit malas memikirkan kemungkinan yang ketiga. Beberapa menyebutnya sebagai rumah, sumber kehangatan, tempat bersandar, titik berangkat, titik pulang, dan masih banyak pengertian filosofis lainnya. Beberapa lain menyebutnya dengan lebih simpel; mereka menyebutnya keluarga. Hakikatnya, posisi keluarga dalam kehidupan seorang manusia adalah pada lingkaran perimeter pertama. Perimeter terdekat dengan nadi dan pembuluh darah.
Kembali aku membayangkan sedang menghabiskan malam minggu dengan keluarga sambil jalan-jalan di luar atau duduk-duduk manja menikmati film bioskop di salah satu stasiun TV di rumah. Namun semakin aku memikirkan seberapa besar peluangku untuk dapat menghabiskan akhir minggu dengan keluarga, semakin aku merasa jauh dan sendiri. Satu-satunya wajah yang menemaniku malam ini adalah pantulan bayangan di layar komputer. Ada aku di sana. Sedikit tertutup oleh serpihan debu-debu. Sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan antara bayanganku dengan wajahku yang sebenarnya. Sama-sama tertutup serpihan abu-abu. Serpihan abu-abu debu pada layar dan serpihan abu-abu abu pada wajah.
Dinding ruang tengah keluarga yang terlupakan kini disemarakkan warna jingga kemerahan. Rona kelam yang biasanya pucat diganti dengan rona gemilang jingga merayakan kemenangan dan kekuatan. Jilatan-jilatan lidah merah di halaman depan sana membuat sekujur tubuhku bermandikan kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan. Kurasakan sengatan panas api yang membakar mobil sedan keluargaku. Mobil itu baru saja memasuki halaman rumah ketika ledakan dahsyat di bawah kap mobil meledak. Dua buntalan tubuh manusia tergeletak di antara kepingan-kepingan metal yang berserakan. Ayah yang pemarah dan ibu yang pemabuk. Kombinasi yang pas sekali untuk anak yang sakit jiwa. Seharusnya mereka tidak membiarkanku berkarat sendirian di rumah ini. Sayang sekali. Selamat jalan untuk yang tidak pernah hadir. Selamat jalan untuk yang tidak pernah ada di sampingku. Selamat jalan untuk yang seharusnya menemaniku di setiap malam minggu.
Apa yang sedang dilakukan orang lain sekarang, ya? Ada tiga kemungkinan pikirku. Yah, kalau tidak menghabiskan waktu dengan pacar, mungkin berkumpul dengan teman-teman sambil mengunjungi cafe atau mall di Jakarta. Pacar dan teman. Itu dua kemungkinan. Kemungkinan ketiga? Aku sedikit malas memikirkan kemungkinan yang ketiga. Beberapa menyebutnya sebagai rumah, sumber kehangatan, tempat bersandar, titik berangkat, titik pulang, dan masih banyak pengertian filosofis lainnya. Beberapa lain menyebutnya dengan lebih simpel; mereka menyebutnya keluarga. Hakikatnya, posisi keluarga dalam kehidupan seorang manusia adalah pada lingkaran perimeter pertama. Perimeter terdekat dengan nadi dan pembuluh darah.
Kembali aku membayangkan sedang menghabiskan malam minggu dengan keluarga sambil jalan-jalan di luar atau duduk-duduk manja menikmati film bioskop di salah satu stasiun TV di rumah. Namun semakin aku memikirkan seberapa besar peluangku untuk dapat menghabiskan akhir minggu dengan keluarga, semakin aku merasa jauh dan sendiri. Satu-satunya wajah yang menemaniku malam ini adalah pantulan bayangan di layar komputer. Ada aku di sana. Sedikit tertutup oleh serpihan debu-debu. Sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan antara bayanganku dengan wajahku yang sebenarnya. Sama-sama tertutup serpihan abu-abu. Serpihan abu-abu debu pada layar dan serpihan abu-abu abu pada wajah.
Dinding ruang tengah keluarga yang terlupakan kini disemarakkan warna jingga kemerahan. Rona kelam yang biasanya pucat diganti dengan rona gemilang jingga merayakan kemenangan dan kekuatan. Jilatan-jilatan lidah merah di halaman depan sana membuat sekujur tubuhku bermandikan kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan. Kurasakan sengatan panas api yang membakar mobil sedan keluargaku. Mobil itu baru saja memasuki halaman rumah ketika ledakan dahsyat di bawah kap mobil meledak. Dua buntalan tubuh manusia tergeletak di antara kepingan-kepingan metal yang berserakan. Ayah yang pemarah dan ibu yang pemabuk. Kombinasi yang pas sekali untuk anak yang sakit jiwa. Seharusnya mereka tidak membiarkanku berkarat sendirian di rumah ini. Sayang sekali. Selamat jalan untuk yang tidak pernah hadir. Selamat jalan untuk yang tidak pernah ada di sampingku. Selamat jalan untuk yang seharusnya menemaniku di setiap malam minggu.
Sunday, February 20, 2011
Tips Menulis oleh Dewi 'Dee' Lestari
1. To cut off excess emotion (and spare our readers’ eyes from suffering): Kurangi tanda seru, tanda baca berlebihan, titik-titik yang terlalu panjang, huruf yang dilipatgandakan untuk kesan dramatis (e.g., “aaaaaargh!”, “Iyaaaaaaaa… iyaaaaaa…”). Trust me, THREE is enough. We get it! Thank you! Tanda baca, I tell ya, is a very powerful tool. Use it wisely, otherwise we’ll weaken its meaning, thus kill our own writing.
2. You’re about to write a novel, NOT A 50 PAGES of SMS! Inserting an sms text can be cute, especially when there’s a special purpose behind it. If that’s the case, by all means, go for it. But too much of it will be… well, too much. Keep that sms style in your own cellphone. Don’t torture your readers any further, they had enough already from their daily cellular interactions.
3. We’re writers, but don’t write’em all down. Trust our readers’ ability to imagine things. And give them some inspiring and convincing description, bukan sekadar deskripsi harfiah akibat malas mikir. A person laughs, okay, but we don’t need to read the “hahahaha”. A person’s heartbeat is racing, okay, but we don’t need to read the “dag-dig-dug”. A person walks through a dark alley, fine, but we don’t need to read the “sret-sret-sret”. A phone rings, please, save the “KRING! KRING! KRING!” for a toddler’s storybook.
4. Keep the dialogue efficient. Sometimes we try to so hard to create a lively situation, we forget that universe favors efficiency. We don’t have to write each, small responses like: “Ha?”, or “APA?!”, or “Huh!”. Do it when it’s really, really essential, and when we don’t have any better way to describe the character’s state of being. All good movies or tv series are efficient with wordings, for every minute counts. Every minute has to be captivating. Blah movies are not, that’s why we usually want to go out of the theatre within the first 15 minutes, or change the channel after ten seconds. Unless it’s really necessary and it serves a certain purpose, cut all excessive responses.
5. I cannot begin to tell you, and to remind myself, how important editing is. No, bukan cuma editorial bahasa. Tapi ritme dan penataan tempo adegan demi adegan—khususnya jika kita mengerjakan cerita bersambung, or a great romance/novel. Membaca novel, apalagi yang ekstra tebal, adalah perjuangan. Bagi saya, ini adalah salah satu aspek terberat yang harus saya kerjakan. Bagaimana mengatur adegan demi adegan dalam sebuah bab hingga selalu menyisakan umpan yang membuat pembaca untuk terus melanjutkan. And that’s what I’ve tried to learn from Candy-candy, Pop Corn, Ke Gunung Lagi… yakni bagaimana umpan-umpan yang kita miliki dapat tersebar dengan tepat hingga perjalanan novel itu tidak membosankan, dan selalu ada sesuatu yang dituju. In short, we have to create an addiction. I think this also differs good movies from crappy movies. The first builds a magnetic ride that sticks our butt to the theatre’s chair, the latter builds an imaginary farm with all white and fluffy sheep for us to count to slumberland.
6. Do you like sad ending? I don’t. I know some people who are just so into sad, tragic, black endings, which is completely okay, really. Not every story in real life ends up with a happy ending. Sad, tragic, black endings are real. But I just hate it when I’ve spent so much time and energy to finish up a book, a thick one, and finally stumbled with a sad, helpless feeling at the end. It just SUCKS! I’d like to feel empowered, inspired, and satisfied at the end of my struggle. A happy ending doesn’t have to be like the typical Hollywood where they just… have to… kiss. Argh. Happy endings can be made classy and subtle. All in all, I just don’t have the heart to devastate my readers with a sad ending, especially after I’ve dragged them to finish hundreds of pages. You better not too. Well, it’s your choice at the end of the day, but please warn me before I spend my good money on your suck ending.
7. This may be my exclusive, subjective experience, but I personally found that these things are counterproductive, distractive, and dangerous for our writing, for they may interrupt our working session, suck dry our energy, and taking up so much of our precious time. People, if you’re into serious writing where every hour counts, stay away from these poisons: FRIENDSTER, FACEBOOK, MY SPACE, MAILING LIST.
8. Seperti halnya anggur, tape, tempe, peuyeum, saya pun percaya bahwa tulisan adalah ‘makanan’ yang harus melalui proses fermentasi yang pas dan memadai untuk bisa matang. Terkadang proses fermentasi ini menjadi barang mewah saat kita dikejar deadline yang mepet. But trust me, this phase is very important. May it be a day or a week, give our writing a time to ripen. Close your manuscript and leave it untouched. Then, after a while, read it again and watch for yourself how the magic starts to happen. Yes. Your writing will reveal its true face. Most of the time, it gets uglier. But this is the true reality, and we need to face it. Justru pada saat tulisan kita menunjukkan wajah aslinya, kita punya kesempatan untuk memperbaiki apa-apa saja yang sekiranya kurang. Based on my experience, this fermentation process should be at least 5 days. Two weeks will be perfect.
9. Careful, though, the fixing process may seem endless. Each time we ferment our writing, we’ll always find some new things to fix. Jadi, biasanya saya hanya membatasi sampai tiga kali. Selepas tiga kali… just let it go. Ikhlaskan. Ini pun ujian yang cukup berat untuk para penulis, yakni: menarik garis usai. Sampai hari ini pun terkadang saya masih gatal ingin memperbaiki manuskrip Supernova, atau Filosofi Kopi. But I know, once they’ve ripened, we need to honor our writing as it is. Berhenti di satu titik usai, dan menerima karya kita apa adanya. Our flaws and imperfections may still be there, but embracing them means we embrace ourselves, including our mistakes and weaknesses. I tell ya one secret: no work is perfect. Makna kesempurnaan bagi saya bukan lagi karya tanpa cacat, melainkan penerimaan yang menyeluruh dan apa adanya.
Thursday, February 17, 2011
Topeng Mozaik dan Kata Hitam
Selama ini saya mengira keluarga saya baik-baik saja. Namun semakin saya dewasa, saya melihat juga mendengar banyak cerita mengenai keluarga teman-teman saya yang lain. Bukannya saya tidak puas dengan kehidupan keluarga saya. Saya bahagia. Bahagia karena saya sudah ikhlas dan menerima apa adanya segala perubahan yang terjadi sejak bertahun-tahun lalu itu. Tahun 2006 tepatnya.
Semenjak tahun itu, semenjak kejadian itu, saya tidak pernah lagi mau bermanja-manja dan terlena dengan orang-orang besar yang seharusnya bisa saya jadikan tempat bersandar. Bayangkan saja, apa yang ada di kepala anda ketika saya menyebut kata "pengkhianatan"? Jejak-jejak perjalanan perubahan usia saya dari teenager menjadi young adult selalu dipenuhi dengan kata hitam itu. Dimulai dari keluarga saya sendiri lalu keluarga dari keluarga saya yang lain-lain. Awalnya saya terpukul menyadari begitu hitam dan palsunya wajah-wajah yang saya lihat selama ini. Di depan, seseorang dapat terlihat begitu putih bersih seolah tiada cacat sampai-sampai menjadi pujaan ibu mertua dan sanak saudaranya yang lain. Namun ternyata pujian-pujian yang saya dengar itu hanyalah perisai palsu yang sengaja diciptakan untuk melindungi keborokan di belakang mukanya. Kepercayaan saya runtuh seketika. Wajahnya hanya topeng. Wajah palsu yang tidak pantas dipandang. Tapi siapa saya berani mendiskreditkan seorang manusia hanya karena ia memakai topeng? Tuhan saja tidak memandang manusia secara subjektif seperti itu.
Topeng dan kata hitam itu pun terus mengiringi hidup saya, perjalanan saya mencari topeng demi kehidupan selanjutnya. Pencarian topeng apa yang akan saya kenakan dan peran apa yang harus saya jalankan berlangsung sangat panjang. Beberapa wajah palsu terngiang-ngiang dalam benak pikiran dan bersemayam lama hingga menciptakan suatu filosofi kehidupan yang saya yakini hingga sekarang. Tiada sesuatu yang sejati. Manusia. Manusia dan manusia. Manusia dan manusia dan manusia lainnya. Tidak ada yang kekal ataupun benar. Terlepas dari hubungan manusia kepada Tuhan. Mudahnya, coba lihat saja pengkhianatan yang dilakukan makna kepada kata. Interpretasi. Subjektivitas. Pemaknaan kata yang berbeda-beda oleh sekian banyak kepala, otak, dan pemikiran.
Tidak ada sesuatu yang sejati. Terlalu banyak sisi dari sisi dan sisi lain sebuah hal. Awalnya saya berusaha menemukan pijakan ataupun landasan dasar dari sistem yang berusaha saya pahami. Namun kemudian terjadi pengkhianatan lain yang bernama paradoks. Apa yang awalnya saya yakini sebagai sebuah kebenaran kemudian bertransformasi menjadi keyakinan-keyakinan lain yang kontradiktif. Lagi-lagi saya hanya bisa menggelengkan kepala dan hanya bisa tersenyum. Dengan filosofi ini, saya tidak pernah dapat dengan mudah mengambil keputusan. Selalu saja ada banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Lucunya, bahkan hingga saat keputusan telah diambil, saya tetap memikirkan hal-hal lain yang mungkin akan membawa saya ke hal yang lebih baik. Seringkali penyesalan ujungnya, ya saya mengerti.
Mungkin ini topeng yang saya temukan dalam pencarian saya selama ini. Satu topeng dengan banyak serpihan-serpihan sisi yang dipantulkan. Ketika manusia lain melihat saya, saya akan memutar wajah saya, secara vertikal, secara horizontal, berusaha memperlihatkan padanya bahwa banyak hal dalam hidup yang dapat dipandang. Banyak hal yang dapat dilihat selain satu sisi. Topeng yang berusaha untuk tidak subjektif ketika menatap kehidupan. Topeng yang objektif.
"We Should All Wear Polka Dots"
Jadi begini ceritanya. Tanpa ada angin apa-apa di tanggal 11 Februari kemarin tiba-tiba punggung bagian kiri saya gatal tidak karuan. Bagi anda yang pernah menonton Black Swan dengan Natalie Portman sebagai Nina Sayers, tentu masih ingat adegan ketika ia bercermin membelakangi kaca untuk melihat punggungnya. Ya kira-kira itu yang saya lakukan di tanggal 11 kemarin di cermin besar di kamar mama. Bercermin dengan pose Black Swan. Dalam pikiran saya, pose bercermin seperti ini sexy juga. Kepala menengok dengan perlahan seolah mengintip dari balik bukit bernama bahu kiri. Tapi sayang, apa yang saya lihat bukan punggung mulus Nina Sayers. Bukan. Bukan juga sayap angsa hitam yang dapat membuat tarian saya tampak dramatis saat klimaks iringan lagu klasik Bach seperti Nina. Saya melihat totol-totol merah tidak karuan! Sejak kapan punggung saya punya motif polkadot merah seperti ini. Belum habis rasa terkejut saya menemukan motif itu, rasa gatal kemudian menjalar dengan liarnya seolah tiada hari esok. Di punggung. Di bahu. Di kulit tubuh saya. Saya ingin teriak. Cukup dalam hati.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar "Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus". Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, "Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw". Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik "We should all wear polka dots" dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Polkadot. Terima kasih Afrojack.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar "Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus". Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, "Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw". Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik "We should all wear polka dots" dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Polkadot. Terima kasih Afrojack.
Subscribe to:
Posts (Atom)
