Meratapi malam minggu ketiga bulan Februari tahun 2011 sama dengan menatap layar kosong komputer di depan wajahku. Hitam. Kosong. Rusak. Satu lagi, tak berfungsi. Tubuh CPU yang tidak dapat dinyalakan, keyboard yang sudah somplak, dan belum lagi kerusakan parah organ dalamnya. Komputer itu teronggok hampir terlupakan di pojok ruang tengah keluarga yang juga hampir terlupakan. Separuh bagian dari layarnya tertutup oleh serpihan debu abu-abu yang hampir hitam. Entah darimana debu-debu ini. Aku pernah mendengar bahwa 90% debu di rumah berasal dari kulit manusia atau serat-serat kain furnitur. Aku tiba-tiba bergidik geli memikirkan bagaimana tubuh manusia dapat terus menerus melepaskan serpihan kulit kecil tanpa terlihat oleh siapapun. Maksudku, sampai setebal debu-debu ini? Yaiks.
Apa yang sedang dilakukan orang lain sekarang, ya? Ada tiga kemungkinan pikirku. Yah, kalau tidak menghabiskan waktu dengan pacar, mungkin berkumpul dengan teman-teman sambil mengunjungi cafe atau mall di Jakarta. Pacar dan teman. Itu dua kemungkinan. Kemungkinan ketiga? Aku sedikit malas memikirkan kemungkinan yang ketiga. Beberapa menyebutnya sebagai rumah, sumber kehangatan, tempat bersandar, titik berangkat, titik pulang, dan masih banyak pengertian filosofis lainnya. Beberapa lain menyebutnya dengan lebih simpel; mereka menyebutnya keluarga. Hakikatnya, posisi keluarga dalam kehidupan seorang manusia adalah pada lingkaran perimeter pertama. Perimeter terdekat dengan nadi dan pembuluh darah.
Kembali aku membayangkan sedang menghabiskan malam minggu dengan keluarga sambil jalan-jalan di luar atau duduk-duduk manja menikmati film bioskop di salah satu stasiun TV di rumah. Namun semakin aku memikirkan seberapa besar peluangku untuk dapat menghabiskan akhir minggu dengan keluarga, semakin aku merasa jauh dan sendiri. Satu-satunya wajah yang menemaniku malam ini adalah pantulan bayangan di layar komputer. Ada aku di sana. Sedikit tertutup oleh serpihan debu-debu. Sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan antara bayanganku dengan wajahku yang sebenarnya. Sama-sama tertutup serpihan abu-abu. Serpihan abu-abu debu pada layar dan serpihan abu-abu abu pada wajah.
Dinding ruang tengah keluarga yang terlupakan kini disemarakkan warna jingga kemerahan. Rona kelam yang biasanya pucat diganti dengan rona gemilang jingga merayakan kemenangan dan kekuatan. Jilatan-jilatan lidah merah di halaman depan sana membuat sekujur tubuhku bermandikan kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan. Kurasakan sengatan panas api yang membakar mobil sedan keluargaku. Mobil itu baru saja memasuki halaman rumah ketika ledakan dahsyat di bawah kap mobil meledak. Dua buntalan tubuh manusia tergeletak di antara kepingan-kepingan metal yang berserakan. Ayah yang pemarah dan ibu yang pemabuk. Kombinasi yang pas sekali untuk anak yang sakit jiwa. Seharusnya mereka tidak membiarkanku berkarat sendirian di rumah ini. Sayang sekali. Selamat jalan untuk yang tidak pernah hadir. Selamat jalan untuk yang tidak pernah ada di sampingku. Selamat jalan untuk yang seharusnya menemaniku di setiap malam minggu.
there was once this girl in reality land who imagine great things that no one would understands
Monday, February 21, 2011
Sunday, February 20, 2011
Tips Menulis oleh Dewi 'Dee' Lestari
1. To cut off excess emotion (and spare our readers’ eyes from suffering): Kurangi tanda seru, tanda baca berlebihan, titik-titik yang terlalu panjang, huruf yang dilipatgandakan untuk kesan dramatis (e.g., “aaaaaargh!”, “Iyaaaaaaaa… iyaaaaaa…”). Trust me, THREE is enough. We get it! Thank you! Tanda baca, I tell ya, is a very powerful tool. Use it wisely, otherwise we’ll weaken its meaning, thus kill our own writing.
2. You’re about to write a novel, NOT A 50 PAGES of SMS! Inserting an sms text can be cute, especially when there’s a special purpose behind it. If that’s the case, by all means, go for it. But too much of it will be… well, too much. Keep that sms style in your own cellphone. Don’t torture your readers any further, they had enough already from their daily cellular interactions.
3. We’re writers, but don’t write’em all down. Trust our readers’ ability to imagine things. And give them some inspiring and convincing description, bukan sekadar deskripsi harfiah akibat malas mikir. A person laughs, okay, but we don’t need to read the “hahahaha”. A person’s heartbeat is racing, okay, but we don’t need to read the “dag-dig-dug”. A person walks through a dark alley, fine, but we don’t need to read the “sret-sret-sret”. A phone rings, please, save the “KRING! KRING! KRING!” for a toddler’s storybook.
4. Keep the dialogue efficient. Sometimes we try to so hard to create a lively situation, we forget that universe favors efficiency. We don’t have to write each, small responses like: “Ha?”, or “APA?!”, or “Huh!”. Do it when it’s really, really essential, and when we don’t have any better way to describe the character’s state of being. All good movies or tv series are efficient with wordings, for every minute counts. Every minute has to be captivating. Blah movies are not, that’s why we usually want to go out of the theatre within the first 15 minutes, or change the channel after ten seconds. Unless it’s really necessary and it serves a certain purpose, cut all excessive responses.
5. I cannot begin to tell you, and to remind myself, how important editing is. No, bukan cuma editorial bahasa. Tapi ritme dan penataan tempo adegan demi adegan—khususnya jika kita mengerjakan cerita bersambung, or a great romance/novel. Membaca novel, apalagi yang ekstra tebal, adalah perjuangan. Bagi saya, ini adalah salah satu aspek terberat yang harus saya kerjakan. Bagaimana mengatur adegan demi adegan dalam sebuah bab hingga selalu menyisakan umpan yang membuat pembaca untuk terus melanjutkan. And that’s what I’ve tried to learn from Candy-candy, Pop Corn, Ke Gunung Lagi… yakni bagaimana umpan-umpan yang kita miliki dapat tersebar dengan tepat hingga perjalanan novel itu tidak membosankan, dan selalu ada sesuatu yang dituju. In short, we have to create an addiction. I think this also differs good movies from crappy movies. The first builds a magnetic ride that sticks our butt to the theatre’s chair, the latter builds an imaginary farm with all white and fluffy sheep for us to count to slumberland.
6. Do you like sad ending? I don’t. I know some people who are just so into sad, tragic, black endings, which is completely okay, really. Not every story in real life ends up with a happy ending. Sad, tragic, black endings are real. But I just hate it when I’ve spent so much time and energy to finish up a book, a thick one, and finally stumbled with a sad, helpless feeling at the end. It just SUCKS! I’d like to feel empowered, inspired, and satisfied at the end of my struggle. A happy ending doesn’t have to be like the typical Hollywood where they just… have to… kiss. Argh. Happy endings can be made classy and subtle. All in all, I just don’t have the heart to devastate my readers with a sad ending, especially after I’ve dragged them to finish hundreds of pages. You better not too. Well, it’s your choice at the end of the day, but please warn me before I spend my good money on your suck ending.
7. This may be my exclusive, subjective experience, but I personally found that these things are counterproductive, distractive, and dangerous for our writing, for they may interrupt our working session, suck dry our energy, and taking up so much of our precious time. People, if you’re into serious writing where every hour counts, stay away from these poisons: FRIENDSTER, FACEBOOK, MY SPACE, MAILING LIST.
8. Seperti halnya anggur, tape, tempe, peuyeum, saya pun percaya bahwa tulisan adalah ‘makanan’ yang harus melalui proses fermentasi yang pas dan memadai untuk bisa matang. Terkadang proses fermentasi ini menjadi barang mewah saat kita dikejar deadline yang mepet. But trust me, this phase is very important. May it be a day or a week, give our writing a time to ripen. Close your manuscript and leave it untouched. Then, after a while, read it again and watch for yourself how the magic starts to happen. Yes. Your writing will reveal its true face. Most of the time, it gets uglier. But this is the true reality, and we need to face it. Justru pada saat tulisan kita menunjukkan wajah aslinya, kita punya kesempatan untuk memperbaiki apa-apa saja yang sekiranya kurang. Based on my experience, this fermentation process should be at least 5 days. Two weeks will be perfect.
9. Careful, though, the fixing process may seem endless. Each time we ferment our writing, we’ll always find some new things to fix. Jadi, biasanya saya hanya membatasi sampai tiga kali. Selepas tiga kali… just let it go. Ikhlaskan. Ini pun ujian yang cukup berat untuk para penulis, yakni: menarik garis usai. Sampai hari ini pun terkadang saya masih gatal ingin memperbaiki manuskrip Supernova, atau Filosofi Kopi. But I know, once they’ve ripened, we need to honor our writing as it is. Berhenti di satu titik usai, dan menerima karya kita apa adanya. Our flaws and imperfections may still be there, but embracing them means we embrace ourselves, including our mistakes and weaknesses. I tell ya one secret: no work is perfect. Makna kesempurnaan bagi saya bukan lagi karya tanpa cacat, melainkan penerimaan yang menyeluruh dan apa adanya.
Thursday, February 17, 2011
Topeng Mozaik dan Kata Hitam
Selama ini saya mengira keluarga saya baik-baik saja. Namun semakin saya dewasa, saya melihat juga mendengar banyak cerita mengenai keluarga teman-teman saya yang lain. Bukannya saya tidak puas dengan kehidupan keluarga saya. Saya bahagia. Bahagia karena saya sudah ikhlas dan menerima apa adanya segala perubahan yang terjadi sejak bertahun-tahun lalu itu. Tahun 2006 tepatnya.
Semenjak tahun itu, semenjak kejadian itu, saya tidak pernah lagi mau bermanja-manja dan terlena dengan orang-orang besar yang seharusnya bisa saya jadikan tempat bersandar. Bayangkan saja, apa yang ada di kepala anda ketika saya menyebut kata "pengkhianatan"? Jejak-jejak perjalanan perubahan usia saya dari teenager menjadi young adult selalu dipenuhi dengan kata hitam itu. Dimulai dari keluarga saya sendiri lalu keluarga dari keluarga saya yang lain-lain. Awalnya saya terpukul menyadari begitu hitam dan palsunya wajah-wajah yang saya lihat selama ini. Di depan, seseorang dapat terlihat begitu putih bersih seolah tiada cacat sampai-sampai menjadi pujaan ibu mertua dan sanak saudaranya yang lain. Namun ternyata pujian-pujian yang saya dengar itu hanyalah perisai palsu yang sengaja diciptakan untuk melindungi keborokan di belakang mukanya. Kepercayaan saya runtuh seketika. Wajahnya hanya topeng. Wajah palsu yang tidak pantas dipandang. Tapi siapa saya berani mendiskreditkan seorang manusia hanya karena ia memakai topeng? Tuhan saja tidak memandang manusia secara subjektif seperti itu.
Topeng dan kata hitam itu pun terus mengiringi hidup saya, perjalanan saya mencari topeng demi kehidupan selanjutnya. Pencarian topeng apa yang akan saya kenakan dan peran apa yang harus saya jalankan berlangsung sangat panjang. Beberapa wajah palsu terngiang-ngiang dalam benak pikiran dan bersemayam lama hingga menciptakan suatu filosofi kehidupan yang saya yakini hingga sekarang. Tiada sesuatu yang sejati. Manusia. Manusia dan manusia. Manusia dan manusia dan manusia lainnya. Tidak ada yang kekal ataupun benar. Terlepas dari hubungan manusia kepada Tuhan. Mudahnya, coba lihat saja pengkhianatan yang dilakukan makna kepada kata. Interpretasi. Subjektivitas. Pemaknaan kata yang berbeda-beda oleh sekian banyak kepala, otak, dan pemikiran.
Tidak ada sesuatu yang sejati. Terlalu banyak sisi dari sisi dan sisi lain sebuah hal. Awalnya saya berusaha menemukan pijakan ataupun landasan dasar dari sistem yang berusaha saya pahami. Namun kemudian terjadi pengkhianatan lain yang bernama paradoks. Apa yang awalnya saya yakini sebagai sebuah kebenaran kemudian bertransformasi menjadi keyakinan-keyakinan lain yang kontradiktif. Lagi-lagi saya hanya bisa menggelengkan kepala dan hanya bisa tersenyum. Dengan filosofi ini, saya tidak pernah dapat dengan mudah mengambil keputusan. Selalu saja ada banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Lucunya, bahkan hingga saat keputusan telah diambil, saya tetap memikirkan hal-hal lain yang mungkin akan membawa saya ke hal yang lebih baik. Seringkali penyesalan ujungnya, ya saya mengerti.
Mungkin ini topeng yang saya temukan dalam pencarian saya selama ini. Satu topeng dengan banyak serpihan-serpihan sisi yang dipantulkan. Ketika manusia lain melihat saya, saya akan memutar wajah saya, secara vertikal, secara horizontal, berusaha memperlihatkan padanya bahwa banyak hal dalam hidup yang dapat dipandang. Banyak hal yang dapat dilihat selain satu sisi. Topeng yang berusaha untuk tidak subjektif ketika menatap kehidupan. Topeng yang objektif.
"We Should All Wear Polka Dots"
Jadi begini ceritanya. Tanpa ada angin apa-apa di tanggal 11 Februari kemarin tiba-tiba punggung bagian kiri saya gatal tidak karuan. Bagi anda yang pernah menonton Black Swan dengan Natalie Portman sebagai Nina Sayers, tentu masih ingat adegan ketika ia bercermin membelakangi kaca untuk melihat punggungnya. Ya kira-kira itu yang saya lakukan di tanggal 11 kemarin di cermin besar di kamar mama. Bercermin dengan pose Black Swan. Dalam pikiran saya, pose bercermin seperti ini sexy juga. Kepala menengok dengan perlahan seolah mengintip dari balik bukit bernama bahu kiri. Tapi sayang, apa yang saya lihat bukan punggung mulus Nina Sayers. Bukan. Bukan juga sayap angsa hitam yang dapat membuat tarian saya tampak dramatis saat klimaks iringan lagu klasik Bach seperti Nina. Saya melihat totol-totol merah tidak karuan! Sejak kapan punggung saya punya motif polkadot merah seperti ini. Belum habis rasa terkejut saya menemukan motif itu, rasa gatal kemudian menjalar dengan liarnya seolah tiada hari esok. Di punggung. Di bahu. Di kulit tubuh saya. Saya ingin teriak. Cukup dalam hati.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar "Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus". Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, "Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw". Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik "We should all wear polka dots" dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Polkadot. Terima kasih Afrojack.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar "Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus". Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, "Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw". Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik "We should all wear polka dots" dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Polkadot. Terima kasih Afrojack.
Wednesday, February 16, 2011
"HEI!! AKU MAU JADI PENULIS!! KAMU MAU JADI APA?"
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
Hantu Masa Lalu
Hei hantu masa lalu, Aku bukan pengemis kekuatanmu meski aku dengan jelas masih saja berlutut di bawah kakimu di saat aku lemah, menangis kelaparan!! Aku juga bukan budak pemuja pesonamu meski sudah sangat jelas kau telah miliki aku, hatiku, rasaku, sekian lamanya!! Tuan hantu masa lalu, kumohon datanglah ke masa ini, sekarang juga bebaskan aku dari kesakitan ikatan rantai memori waktu yang telah berkarat!! Lilit tubuhku dengan benang selembut untaian harapan dan doa sebelum tidur!! Ijinkan jalinan benang-benang itu terajut menjadi kain abadi milik kita sampai nanti tiada lagi mimpi yang terucap.. Kau tahu artinya, tuan? Kita, selamanya..
"INGATAN ADALAH JARAK YANG MEMISAHKAN DETIK INI DENGAN CINTANYA. TAPI JUGA SATU-SATUNYA YANG MENGHUBUNGKAN."
- Avianti Armand
- Avianti Armand
Hei Realita!
"SATU MIMPI, DUA MIMPI, TIGA MIMPI LALU APALAGI? AKU PUNYA BANYAK TAPI SAYANG BELUM SEMPAT AKU CERITAKAN PADAMU, HEI REALITA.."
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
Sebuah Cerita tentang Kasih Sayang
Pada suatu ketika ada suatu pulau yang dihuni semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia. Sebelum kita mengkotak – kotakkannya ke dalam istilah baik atau buruk. Sifat – sifat ini berdiri sendiri sebagai manusia dengan masing – masing ciri khasnya. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Kasih Sayang dan sifat – sifat manusia lainnya.
Suatu hari ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan – pelan. Sifat – sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap – siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.
Kasih sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun – tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatan pada saat – saat terakhir karena sibuk membantu teman yang lain bersiap – siap. Akhirnya Kasih Sayang memutuskan ia perlu bantuan.
Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.
“Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Kasih Sayang.
“Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antic dan koleksi seni. Tak ada ruang untukmu di sini.”
Lalu Kasih Sayang minta tolong kepada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah. “Kesombongan, sudikah engkau menolongku?”
“Maaf,” jawab Kesombongan. “Aku tak bisa menolongmu. Kamu basah kuyup dan kotor. Nanti dek perahuku yang mengkilat ini kotor jika kau naik.”
Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini mesti menimpanya? Meski pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan yang menyenangkan, Kasih Sayang sudah sangat terdesak.
“Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”
“Oh, Kasih Sayang, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana kalau nanti ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Tidak, aku tidak tega mengajakmu.”
Salah satu perahu yang paling akhir meninggalkan pulau adalah Optimisme. Itu karena dia tak percaya tentang bencana dan hal – hal buruk, termasuk bahwa pulau ini akan tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Kasih Sayang memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan.
Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara. “Ayo, naiklah ke perahuku!” Kasih Sayang merasa begitu lelah sehingga dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nahkoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterimakasih, meloncat turun dan melambaikan tangan kepada nahkoda baik itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya…
Ketika di pantai, ia bertemu Pengetahuan dan bertanya, “Siapa tadi yang menolongku?”
“Itu tadi Waktu,” jawab Pengetahuan.
“Waktu?” tanya Kasih Sayang. “Kenapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?”
Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang.”*Diambil dari ‘101 Kisah yang memberdayakan: Penggunaan Metafora sebagai Media Penyembuhan’ karya George W.Burns
Jadi, inti dari kenapa cerita ini gw posting di blog ini, sediakanlah cukup waktu untuk menunggu dan membiarkan kehebatan kasih sayang bekerja. Yea, menunggulah. That’s what I always say to myself. Kasian banget sih sebenernya kalo kasih sayang sampe harus menunggu. Padahal kan kalo mengutip kata tokoh jomblo (gw lupa namanya) yang diperanin sama Christian Sugiono di salah satu episode Jomblo Series,
“Cinta bisa datang. Cinta bisa pergi. Cinta bisa memilih. Tapi ada satu yang cinta nggak bisa lakuin. Cinta nggak bisa nunggu.”
Well, gw nggak terlalu setuju sama quote itu. Justru dengan menunggu, itu yang namanya pesimisme, kesombongan, kemakmuran, dan bahkan optimisme yang terlalu berlebihan, bisa diredam perlahan – lahan seiring berjalannya waktu.
Manusia kan semakin waktu berjalan, semakin mateng pemikirannya. Benar tidak? Mungkin yang dulunya dia merasa terlalu makmur dan mampu hanya hidup dengan dirinya sendiri, tidak membutuhkan teman atau sahabat, perlahan hatinya mulai tersentuh oleh kasih sayang dan ia pun tersadar bahwa ia membutuhkan seseorang lain selain dirinya untuk hidup. Mungkin yang dulunya dia terlalu pesimis dan nggak yakin untuk menyatakan “Aku sayang kamu. Aku butuh kamu.” ke seseorang special yang disukainya , perlahan – lahan dia bisa ngilangin rasa takut itu. Mungkin yang dulunya dia terlalu optimis dalam menjalani hubungan dan yakin bahwa hubungan yang dijalaninya tidak ada masalah sama sekali, sekarang dia berani untuk introspeksi melihat ke belakang dan kemudian bertanya, “Kita berdua kenapa sih? Kamu masih marah ya sama aku? Maaf yah, aku tau aku salah.” Mungkin yang dulunya dia terlalu sombong untuk bilang “Aku pengen kita balikan lagi.” karena harga dirinya yang tinggi, sekarang hatinya telah luluh dan dia lebih memilih untuk memohon supaya rasa sayang di antara mereka tetap ada.
Semua orang pasti punya penyesalan, nggak kecuali gw. Mungkin emang ada waktunya nanti dimana gw bisa buktiin ke seseorang itu kalo gw udah berubah jadi lebih baik, kalo gw udah berhasil menyelamatkan diri dari pulau yang tenggelam itu. Ya, nggak ada yang tau kapan. So I just have to wait for it dan terus ngejaga rasa sayang ini tetap ada, nggak kalah sama kemakmuran, pesimisme, optimisme, dan kesombongan itu. KEEP FIGHTING!!
In Memory of Our My Friday, 13th of August 2004…
"IS THERE ANY REASON WHY YOU STILL CAN’T FORGET HIM?”
“NO, LOVE DOESN’T NEED A REASON!"
- Sheila Putrianti Narita
“NO, LOVE DOESN’T NEED A REASON!"
- Sheila Putrianti Narita
The Dumbest Things
"WHAT’S THE DUMBEST THING YOU EVER DID IN YOUR LIFE?”
“LETTING HIM GO WITHOUT HIM KNOWING WHY I LET HIM GO.."
- Sheila Putrianti Narita
“LETTING HIM GO WITHOUT HIM KNOWING WHY I LET HIM GO.."
- Sheila Putrianti Narita
Pecandu Sakit Hati
akhir-akhir ini sepertinya gw baru saja menyadari kalau sebenarnya gw amat sangat menikmati kesakitan di hati gw..
setiap kali gw pengen nangis atau lagi kesel berjuta2 kesel, pikiran gw berkecamuk dengan kata-kata dan kalimat-kalimat cacian..
dan terkadang pelarian gw terhadap kata-kata yang berkecamuk itu gw convert menjadi suatu drama ataupun dialog ataupun cerita yang juntrung2annya nggak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan gw..
pelarian dengan cara menimpa kesedihan dengan khayalan tokoh imajinasi dalam otak..
makanya seringkali status2 gw entah datang darimana seperti bicara dengan sesuatu yang nggak kontekstual dalam kehidupan gw..
kalau lagi seneng, gw bahkan malah nggak memiliki satupun kata dalam pikiran gw..
oh iya, ni bukti juga nih, kalau gw lebih nyaman dan terforsir ketika ngerjain sesuatu deket tanggal deadline..
see, kesakitan dalam hati itu ada gunanya juga buat gw..
asal jangan sampe gw jadi pecandu sakit hati aja hahaha..
setiap kali gw pengen nangis atau lagi kesel berjuta2 kesel, pikiran gw berkecamuk dengan kata-kata dan kalimat-kalimat cacian..
dan terkadang pelarian gw terhadap kata-kata yang berkecamuk itu gw convert menjadi suatu drama ataupun dialog ataupun cerita yang juntrung2annya nggak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan gw..
pelarian dengan cara menimpa kesedihan dengan khayalan tokoh imajinasi dalam otak..
makanya seringkali status2 gw entah datang darimana seperti bicara dengan sesuatu yang nggak kontekstual dalam kehidupan gw..
kalau lagi seneng, gw bahkan malah nggak memiliki satupun kata dalam pikiran gw..
oh iya, ni bukti juga nih, kalau gw lebih nyaman dan terforsir ketika ngerjain sesuatu deket tanggal deadline..
see, kesakitan dalam hati itu ada gunanya juga buat gw..
asal jangan sampe gw jadi pecandu sakit hati aja hahaha..
What is Missing
know what’s missing this time?
the warmth.
- Sheila Putrianti Narita
the warmth.
- Sheila Putrianti Narita
Kacang Lupa Kulit Part 1
terkadang sering gw berpikir untuk menjadi sebuah kacang yang lupa dengan kulitnya..
pergi jauh, meninggalkan semua hal yang ada sebelumnya di kehidupan gw..
kehidupan yang bener-bener baru, kira-kira seperti itu..
bila memang ada reinkarnasi, ya, mungkin gw akan memilih untuk bereinkarnasi..
merestart semuanya dari awal, dengan penuh harapan baru bahwa semuanya akan menjadi lebih baik..
ada yang bilang kalo gw temasuk orang yang perfeksionis dan penuh ambisi..
mungkin ya, itu sebabnya gw ingin merestart semuanya dari awal..
atau mungkin gw emang cuma sekedar ingin menghindari kesalahan dan penyesalan yang ada di hidup gw selama ini..
bukan berarti gw nggak mensyukuri kehidupan gw sekarang tapi tentu ada saat dimana gw belajar mentolerir semua kekurangan gw dan orang-orang di sekitar gw..
kekurangan yang fundamental..
kekurangan yang berada pada lingkar inti satu kehidupan sehari - hari gw..
oke, mungkin memang udah jalannya seperti ini..
bukankah ada yang bilang bahwa semua akan indah pada waktunya?
ah ya, entahlah, tapi memang terkadang sering gw ingin menjadi si kacang nggak tahu diri itu..
pergi jauh, meninggalkan semua hal yang ada sebelumnya di kehidupan gw..
kehidupan yang bener-bener baru, kira-kira seperti itu..
bila memang ada reinkarnasi, ya, mungkin gw akan memilih untuk bereinkarnasi..
merestart semuanya dari awal, dengan penuh harapan baru bahwa semuanya akan menjadi lebih baik..
ada yang bilang kalo gw temasuk orang yang perfeksionis dan penuh ambisi..
mungkin ya, itu sebabnya gw ingin merestart semuanya dari awal..
atau mungkin gw emang cuma sekedar ingin menghindari kesalahan dan penyesalan yang ada di hidup gw selama ini..
bukan berarti gw nggak mensyukuri kehidupan gw sekarang tapi tentu ada saat dimana gw belajar mentolerir semua kekurangan gw dan orang-orang di sekitar gw..
kekurangan yang fundamental..
kekurangan yang berada pada lingkar inti satu kehidupan sehari - hari gw..
oke, mungkin memang udah jalannya seperti ini..
bukankah ada yang bilang bahwa semua akan indah pada waktunya?
ah ya, entahlah, tapi memang terkadang sering gw ingin menjadi si kacang nggak tahu diri itu..
"MUNGKIN BENAR CINTA TAK HARUS MEMILIKI. YA YA YA 6 TAHUN SUDAH. AKU RELAKAN 6 TAHUN BERLALU BEGITU SAJA. MESKI TERKADANG MASIH AKU TAK JUGA DAPAT BERHENTI MENCOBA MELUPAKAN DIRINYA. MUNGKIN JUGA BENAR ADANYA CINTA SEJATI HANYA SEKALI. YA YA YA 6 TAHUN PULA AKU TIDAK JATUH CINTA SAMA SEKALI. AKU RELAKAN 6 TAHUN BERLALU BEGITU SAJA. TANPA CINTA. TANPA DIA."
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
Dulu dan Sekarang
kalau dulu saya bisa curhat merengek ke satu orang.
lewat sms. atau telepon. atau ketemu langsung.
sekarang itu tidak bisa lagi.
karena saya tidak ingin terlihat labil di umur saya yang sudah 22.
juga karena orang itu sudah tidak satu irama lagi dengan nadi saya.
lewat sms. atau telepon. atau ketemu langsung.
sekarang itu tidak bisa lagi.
karena saya tidak ingin terlihat labil di umur saya yang sudah 22.
juga karena orang itu sudah tidak satu irama lagi dengan nadi saya.
My Fucklentine Resolution
THERE YOU GO!!! thanks to derrida, i am not such a fully-believer to ETERNAL LOVE anymore!! my plan next : MOVING ON!! i’ll find another “who” with similiar “what” with him!!!!
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
"INGIN LUPA TAPI NGGAK BISA. BUKAN NGGAK MAU. SUDAH MAU DAN SUDAH LUPA KOK. TAPI TERINGAT LAGI *LAGI-LAGI. APA AKU DIKUTUK?"
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
Cita-cita Seorang Aku
ARSITEK, pastinya. no comment about this XD lols i’ll absolutely be an architect *pede mampus*
PENULIS, sekedar hobi. ada hal yang dapat dijelaskan dengan kata - kata dan ada hal yang tidak.
GRAPHIC DESIGNER, sangat berminat dan sangat dianjurkan dari hasil tes psikologi jaman kelas 3 sma.
SENIMAN, tertarik banget sama seni murni macem painting, sculpture, ceramics, etc etc etc.
AKTIVIS LINGKUNGAN, ini bukan cita - cita tapi udah keharusan dan kesadaran gw sebagai manusia pemakai bumi.
ah, ya, itulah cita2ku..paling utama adalah menjadi arsitek..dari kecil tiap ditanya orang, pasti aku jawab “ARSITEK KAYA PAPA” hahaha jadi pengen nangis kalo inget masa kecil..semoga aku bisa membangun dan merancang dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran terhadap lingkungan..
PENULIS, sekedar hobi. ada hal yang dapat dijelaskan dengan kata - kata dan ada hal yang tidak.
GRAPHIC DESIGNER, sangat berminat dan sangat dianjurkan dari hasil tes psikologi jaman kelas 3 sma.
SENIMAN, tertarik banget sama seni murni macem painting, sculpture, ceramics, etc etc etc.
AKTIVIS LINGKUNGAN, ini bukan cita - cita tapi udah keharusan dan kesadaran gw sebagai manusia pemakai bumi.
ah, ya, itulah cita2ku..paling utama adalah menjadi arsitek..dari kecil tiap ditanya orang, pasti aku jawab “ARSITEK KAYA PAPA” hahaha jadi pengen nangis kalo inget masa kecil..semoga aku bisa membangun dan merancang dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran terhadap lingkungan..
"I HATE REALITY"
why don’t us human just live in dream. inside the head. inside the heart. no need to yell or screaming out loud with dirty tongue and words. i hate reality because it doesn’t mean anything for me. i hate reality because in the end everything will be alone after all. reality will puff into nothingness. there’s no more real story or things.
i wish i could just dreaming and dreaming so i could die alone and no need to feel any pain and suffer. i wish i could just cut my left wrist and let the blood fall in my hand. if only i was dare enough to let the knife slipped through inside my skin. i wanna taste what life means. what is it like to drink your life and let it come in through your vein over again.
i wish i could just dreaming and dreaming so i could die alone and no need to feel any pain and suffer. i wish i could just cut my left wrist and let the blood fall in my hand. if only i was dare enough to let the knife slipped through inside my skin. i wanna taste what life means. what is it like to drink your life and let it come in through your vein over again.
Putih itu Merah itu bukan Putih
Kuiris sedikit permukaan kulit lengan yg selalu menempel di bahu kiriku. Katanya terbuat dari tanah. Tapi yg kulihat hanya darah. Merah. Merah itu menetes jatuh ke pangkuan kain putih yang kukenakan malam ini. Dia bilang ingin bertemu denganku tapi tidak, dia lagi-lagi ingkar. “Tiba-tiba ada acara”, dia bilang. Bohong! Temaram lilin dan dentingan sendok garpu sedang mengiring sekulum senyum wanita yg duduk di hadapannya. Pengkhianat bajingan!!! Lelaki biadab!!! Arghhhhhhhhhhhh!!! Seketika, Hening. Semua berhenti menetes. Semua berhenti berdetak. Aku tidak lagi dapat melihat putih. Putih telah menjadi merah. Begitupun aku. Kosong. Mati.
Metallica
"DI UMUR SATU MINGGU KAMU BERTAMU KE PIKIRANKU TANPA IJIN, TANPA SALAM, HANYA SATU YANG BISA KULAKUKAN: MENGUSIRMU SECARA PERLAHAN DARI SEKAT KAMAR PIKIRANKU. CARANYA? MELANTUNKAN MANTRA SYAIR LAGU INI SAMPAI BERISIK MENGGANGGU NYENYAK TIDURMU. YOU KNOW, IT WORKS :))"
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
"1,2,3,4,5,6.. KUHITUNG LAGI SECARA PERLAHAN. SETIAP HELAI. SETIAP TETES. BAGIAN DARI DIRIKU YANG HILANG MALAM INI. JATUH. OH, TERNYATA TAK TERHITUNG."
- Sheila Putrianti Narita
- Sheila Putrianti Narita
Senyuman Bulan
Malam ini adalah malamnya bulan mencuri perhatian. Tersenyum dia ke semua mata yang menatap. Menebar pesona tak kalah dengan bintang. Paras cantik. Begitu memukau. Pintar. Juga cerdas. Coba tengok, ia tahu saja kapan harus tersenyum sungging seperti itu. Ketika hitam benar pekat dan ketika abu-abu tiada bergelantung. Bulan, kau sungguh cantik malam ini
Cinta Dua Hati
“Sayang, sayang itu apa? Kamu bilang sayang aku, tapi kamu juga bilang sayang dia. Aku nggak mengerti”
“Begitupun aku. Aku sayang kamu. Sungguh. Aku juga sayang dia. Aku nggak ngerti, tapi itu dua hal yang beda. Itu yang aku rasain, yang”
“Ah! Basi! Kamu curang, jahat, raja tega! Seumur hidupku tuh HANYA KAMU tau nggak! Kamu nyakitin aku, ngeduain aku! BERENGSEK!”
“Kamu tidak sayang ibumu?”
“……….”
“Tidak”
“Aku tidak pernah punya ibu”
“Begitupun aku. Aku sayang kamu. Sungguh. Aku juga sayang dia. Aku nggak ngerti, tapi itu dua hal yang beda. Itu yang aku rasain, yang”
“Ah! Basi! Kamu curang, jahat, raja tega! Seumur hidupku tuh HANYA KAMU tau nggak! Kamu nyakitin aku, ngeduain aku! BERENGSEK!”
“Kamu tidak sayang ibumu?”
“……….”
“Tidak”
“Aku tidak pernah punya ibu”
Libra VS Taurus
“Jika memang Libra tidak akan cocok dengan Taurus, lebih baik aku mulai belajar menjadi Virgo, Capricorn, dan Pisces”
*******************************************************************************************
Taurus and Libra love compatibility
This couple shares a love of music and art, but hasn’t much else in common. Taurus is the proprietor by nature and not romantic enough for Libra. Taurus likes to plan life but Libra will make no such commitment and this can lead to some violent abuse on both sides. Libra dislikes Taurus’s dictatorial ways and quickly loses patience with Taurus’s stodgy attitudes. To boot, Taurus is jealous of Libra’s romantic and fickle nature. They are sexually in tune, so a lot of pleasant games are possible but not a sound union. (via www.gotohoroscope.com)
*******************************************************************************************
“Tiba-tiba aku membayangkan timbangan bersisik ikan yang bermain pura-pura bahagia di atas tanah. Aku membayangkan timbangan yang tidak seimbang oleh berat tanduk yang dengan paksa kusematkan di porosnya. Aku juga membayangkan timbangan yang hanya menimbang angka-angka pasti, tanpa kurang atau lebih.
Oh sungguh itu bukan aku!
Aku bermain di udara, melayang dengan bebas tidak terpijak di tanah, tidak mengalah pada gravitasi.
Elemenku adalah medium yang sangat netral untuk bernafas.
Di tubuhku tidak ada parameter angka pasti yang dapat menilai A pasti lebih berat daripada B.
Aku menimbang dengan rasa sehingga B dapat ku katakan terlihat lebih berat daripada A.
Itu baru aku, Libra.
Tersusun oleh udara. Bukan tanah”
*******************************************************************************************
Taurus and Libra love compatibility
This couple shares a love of music and art, but hasn’t much else in common. Taurus is the proprietor by nature and not romantic enough for Libra. Taurus likes to plan life but Libra will make no such commitment and this can lead to some violent abuse on both sides. Libra dislikes Taurus’s dictatorial ways and quickly loses patience with Taurus’s stodgy attitudes. To boot, Taurus is jealous of Libra’s romantic and fickle nature. They are sexually in tune, so a lot of pleasant games are possible but not a sound union. (via www.gotohoroscope.com)
*******************************************************************************************
“Tiba-tiba aku membayangkan timbangan bersisik ikan yang bermain pura-pura bahagia di atas tanah. Aku membayangkan timbangan yang tidak seimbang oleh berat tanduk yang dengan paksa kusematkan di porosnya. Aku juga membayangkan timbangan yang hanya menimbang angka-angka pasti, tanpa kurang atau lebih.
Oh sungguh itu bukan aku!
Aku bermain di udara, melayang dengan bebas tidak terpijak di tanah, tidak mengalah pada gravitasi.
Elemenku adalah medium yang sangat netral untuk bernafas.
Di tubuhku tidak ada parameter angka pasti yang dapat menilai A pasti lebih berat daripada B.
Aku menimbang dengan rasa sehingga B dapat ku katakan terlihat lebih berat daripada A.
Itu baru aku, Libra.
Tersusun oleh udara. Bukan tanah”
Shifting Image
Dulu ada Kami.
ada Aku.
ada Kamu.
Sekarang ada Kita.
Aku.
Dan dia.
Sekarang ada Kalian.
Kamu.
Dan Mereka.
Kemana Kami yang dulu?
ada Aku.
ada Kamu.
Sekarang ada Kita.
Aku.
Dan dia.
Sekarang ada Kalian.
Kamu.
Dan Mereka.
Kemana Kami yang dulu?
Refleksi 2004 - 2010
* ..... - 2004 - 2005 - 2006 - 2007 - 2008 - 2009 - 2010*
kamu tahu, sayang..
bila aku diminta merunutkan tahun-tahun kehidupanku semenjak 2004,
aku akan cerewet bercerita sampai kamu menutup telinga di tahun 2004 dan 2005,
menangisi keras-keras tahun 2006 sampai kamu malu pilu pura-pura tak mengenaliku,
dan hening terdiam kehabisan kata di tahun 2007, 2008, 2009,
sampai tahun ini, 2010..
bukan, aku bukan diam karena tak ada cerita bahagia di tahun-tahun itu, sayang..
tapi karena nggak ada lagi kamu, itu saja..
"semoga 2010 akan menjadi tahun cerita panjang lebar meski tiada lagi seorang dia :))"
kamu tahu, sayang..
bila aku diminta merunutkan tahun-tahun kehidupanku semenjak 2004,
aku akan cerewet bercerita sampai kamu menutup telinga di tahun 2004 dan 2005,
menangisi keras-keras tahun 2006 sampai kamu malu pilu pura-pura tak mengenaliku,
dan hening terdiam kehabisan kata di tahun 2007, 2008, 2009,
sampai tahun ini, 2010..
bukan, aku bukan diam karena tak ada cerita bahagia di tahun-tahun itu, sayang..
tapi karena nggak ada lagi kamu, itu saja..
"semoga 2010 akan menjadi tahun cerita panjang lebar meski tiada lagi seorang dia :))"
Air Mata Anti Gravitasi
tahukah kamu menahan air mata turun itu lebih sulit dari membiarkannya mengalir dan dibiarkan dilihat oleh banyak ribuan mata?
sungguh sungguh sangat sulit..
lebih baik sibuk menjawab pertanyaan sana sini oleh yang melihat..
lebih baik malu meraung - raung di tempat umum..
daripada punya dendam bersekam di dalam..
daripada punya muka mendung tak bisa bersenandung..
*hei hei para ilmuwan adakah air mata yang tidak bisa jatuh?
ada? air mata anti gravitasi?
kalau ada, tolong beritahu saya*
sungguh sungguh sangat sulit..
lebih baik sibuk menjawab pertanyaan sana sini oleh yang melihat..
lebih baik malu meraung - raung di tempat umum..
daripada punya dendam bersekam di dalam..
daripada punya muka mendung tak bisa bersenandung..
*hei hei para ilmuwan adakah air mata yang tidak bisa jatuh?
ada? air mata anti gravitasi?
kalau ada, tolong beritahu saya*
Tuk Tuk Tengah Malam
"tuk tuk tuk", apa itu?
bukan, bukan suara gigi gemerutuk
bukan juga gigi kena kutuk..
"tuk tuk tuk", hiii apa itu?
bukan, bukan suara ayam mematuk
bukan juga ayam mengutuk - utuk
"tuk tuk tuk", hoiii apa itu?
apa sih, apa sih, apa sih?
"tuk tuk tuk", hiii smakin kencang
kaburrrr kaburrrr kaburrrr
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
(siiingggg silence in a sudden)
oappaaaa bahhh pret sombret saya ketiduran!!
*ohhh, ia menganTUK ternyata*
"tak tik tak"
the clock is ticking,sheila
wake up wake up lazy girl or the tuk tuk will come AGAIN!!
bukan, bukan suara gigi gemerutuk
bukan juga gigi kena kutuk..
"tuk tuk tuk", hiii apa itu?
bukan, bukan suara ayam mematuk
bukan juga ayam mengutuk - utuk
"tuk tuk tuk", hoiii apa itu?
apa sih, apa sih, apa sih?
"tuk tuk tuk", hiii smakin kencang
kaburrrr kaburrrr kaburrrr
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
"tuk tuk tuk"
(siiingggg silence in a sudden)
oappaaaa bahhh pret sombret saya ketiduran!!
*ohhh, ia menganTUK ternyata*
"tak tik tak"
the clock is ticking,sheila
wake up wake up lazy girl or the tuk tuk will come AGAIN!!
Cerita Malam si Uhuk, Ohok, dan Hoek
03.03 wib
"UHUK UHUK UHUK" hah kaget ekaget, doh apaan si ngagetin aja, ade ampe kbangun kan..tenga malem ni tenga malem hiihh..
"UHUK UHUK UHUK"
haduh si kakak batuk mulu sih, udah dong, udah..mau tidur lg ni ade..
"OHOK OHOK OHOK"
ih ko mala makin kenceng si, hah lagian sih tiap mlm jaga lilin mlulu..ngk mw minum obat pulak..
"OHOK OHOK OHOK"
duu kakaaa berisik ah berisik!! hiiih auooo uooo uooo!! diemgak diemgak!!
"HHOEEEKKKK!!"
yes muntah jg si kaka akhirnya..yak hore hore, ade jd bisa tidur lg de skarang..nyam nyam nyam..
lalu si kaka melanjutkan jaga lilin dan si ade pun melanjutkan berburu esala tidur deng
hahah mungkin bgini pikiran org2 pas lg denger batukan gw T_T jahaha sangking kencengnya ama jg sama skali ngk bs berenti kalo udah sekalinya batuk gara2 ngetawain orang..
dosa sel dosa,makanya berenti jaga lilin ama makan angin kantek dong..
"UHUK UHUK UHUK" hah kaget ekaget, doh apaan si ngagetin aja, ade ampe kbangun kan..tenga malem ni tenga malem hiihh..
"UHUK UHUK UHUK"
haduh si kakak batuk mulu sih, udah dong, udah..mau tidur lg ni ade..
"OHOK OHOK OHOK"
ih ko mala makin kenceng si, hah lagian sih tiap mlm jaga lilin mlulu..ngk mw minum obat pulak..
"OHOK OHOK OHOK"
duu kakaaa berisik ah berisik!! hiiih auooo uooo uooo!! diemgak diemgak!!
"HHOEEEKKKK!!"
yes muntah jg si kaka akhirnya..yak hore hore, ade jd bisa tidur lg de skarang..nyam nyam nyam..
lalu si kaka melanjutkan jaga lilin dan si ade pun melanjutkan berburu esala tidur deng
hahah mungkin bgini pikiran org2 pas lg denger batukan gw T_T jahaha sangking kencengnya ama jg sama skali ngk bs berenti kalo udah sekalinya batuk gara2 ngetawain orang..
dosa sel dosa,makanya berenti jaga lilin ama makan angin kantek dong..
Sugesti Romy Rafael VS Sugesti Mbok Jamu dan Gadis Comel
Hohoho, siapa yang sangka gitu kalo ternyata gw diberi kesempatan untuk merasakan sugesti dari Pak Romy Rafael. Seminggu yang lalu gw ikutan nonton acara Dorce Show bersama anak – anak arsitektur lainnya. Jadi berbondong – bondong dengan dress code putih, beratasnamakan dari UI, gw ikutan merelakan waktu libur gw tiduran di rumah untuk mencari dana buat acara PSB Arsitektur 2008. Lumayanlah, ikutan dua episode dorce show dibayar sekitar 25 – 30 ribu per kepala. Tanpa tahu menahu akan siapa bintang tamu yang muncul, di episode yang pertama kita jabanin, ada pak Timbul dengan topik “Macam – macam pijit yang ada di Jakarta”. Cukup seru, gw sempet bernada suara “Iiiih, ko gitu sy?” atau “Iiiih, males banget deh” ke Mirra, temen gw, ketika ada narasumber bertopeng yang katanya penikmat pijit plus2 yang doyannya nyari pemijit yang sejenis kelamin sama dia. Ada juga narasumber yang ngebahas pijit totok aura. Atau ada juga yang ngebahas pijit sehat pake batu alam dari Singapur yang dipanaskan terlebih dahulu. Sampe ngebahas tentang pijit tuna netra yang bener2 cuma mengandalkan indera peraba mereka. Ngedengerin topik tentang pijit2 ini, malah ngebikin gw jadi kepengen dipijit, berhubung posisi duduk penonton yang agak kaku nggak bebas bergerak ngebikin gw berasa pegel. Gw pengen nyobanya pijit yang pake batu panas itu. Kayanya enak banget, anget2 kena kulit.
Nah, di episode kedua yang kita jabanin ini yang ternyata lebih seru. Tentang Hypnotherapy. Ho, seselesainya episode pertama, Dorce keluar untuk berganti pakaian dan make’up. Tiba – tiba Pak Romy Rafael masuk ke dalem studio. Hiya, genteng ganteng. Sekali lagi, ganteng saudara – saudara. Kenapa ya kalo artis tu bagusan keliatan aslinya? Anyway, abis terpana dengan penampilan Romy, tiba – tiba ada suara bisik – bisik centil dari dua makhluk di sebelah kiri gw.
“Gawat ni gawat, kita’ mau diapain nih bu?”
“Iya ni mpok, gw mah ogah disuru aneh2 ama Romy Rapael..”
“Hiiiii, mana nanti kita’ kan masuk tivi. Malu ah kalo dihipnotis yang enggak2. Bikin malu ajah.”
“Dir, gw tau, pokonya kita’ nggak boleh dengerin kata2nya dia. Jangan sampe kita’ keipnotis sama tu orang”
“Bener ya Mir ya, nanti kita ketawa2 berdua aja pas dia lagi ngipnotis kita’. Jangan didengerin.”
Heyyaah, dua makhluk itu adalah Mirra Mbok Jamu dan Dira Gadis Comel. Sekawan permainan ama gw. Kalo di kampus, hampir tiap hari gw maennya ama mereka. Nggak heran bahasa pemilihan kata dan logat ngomong gw jadi tambah parah sejak berkawan dengan mereka, terutama sejak sama si Mbok Jamu itu. Romy Rafael langsung mau melakukan tes sugesti ke penonton sebelum acara dimulai. Tujuannya buat nyari penonton yang emang bener2 serius mau dengerin omongan dia (tentunya bukan gw, bukan mirra, dan bukan dira). Tes sugesti pertama, penonton disuruh tutup mata, mengangkat kedua lengan lurus sejajar bahu ke depan terus dengerin kata2 dia. “Yak, bayangkan secara nyata bla bla bla di tangan kanan anda ada buku yang sangat berat. Berat, berat, berat, tangan anda sampai tak kuat menahannya. Kemudian bayangkan secara nyata bla bla bla di tangan kiri anda memegang banyak balon yang membuat tangan anda merasa ringan. Tangan anda perlahan – lahan mulai ikut diterbangkan balon – balon tersebut. Bla bla bla bla. Sekarang, buka mata anda.” Dan hasilnya, tangan kanan gw mengarah ke bawah dan tangan kiri gw mengarah ke atas. Posisi tangan yang tidak wajar. Yak, tes sugesti massal pertama berhasil buat gw. Dua makhluk itu? Tentu tidak berhasil, karena ketika pak Romy Rafael berusaha mensugesti pikiran para penonton, mereka berdua malah komat kamit ketawa ketiwi tidak jelas. Alhasil, posisi tangan si Mbok Jamu dan Gadis Comel tidak berubah sama sekali. Mereka tidak serius saudara – saudara. Dalam hati, gw tertawa. Hahaha.
Ho, gw berhasil melanjutkan ke tes sugesti kedua. Penonton disuru tutup mata lagi, kedua tangan diangkat lurus ke atas dan dikatupkan genggamannya sekuat mungkin. “Kali ini saya akan membuat tangan anda menempel tidak dapat dilepas. Hanya dapat dilepas sampai saya sentuh kembali. Dalam hitungan ke 5 genggaman anda 1000 kali lebih kuat. Lebih keras. Lebih kuat. Bla bla bla bla”. Merasa bangga dengan keberhasilannya menangkis sugesti dahsyat pak Romy Rafael yang mengenai hampir semua penonton, kedua makhluk itu mulai menggoda gw dengan sugesti bisik – bisik ala mereka.
“Dir, dir, si Sheila kena tuh. Hihihi”
“Iya, iiiih. Bisa kena segala. Hahahaha”
“Hihihihi. Aneh ya. Bisa ampe kena”
“Iya, hahaha. Masa bisa kena sih”
“Dir, si Sheila mukanya serius banget. Tuh, liat deh”
“iiiih, iya. Serius banget. Pantesan kena ya mir?”
“Hihihihihihi”
“Hahahaha”
“Dir, dir, keteknya Sheila basah Dir!”
“Mana,mana? Iiiih, iyaaa basaaaah”
“Hihihihihi”
“Huahhahahaha”
Sialan! Dua makhluk itu berhasil menjerat pikiran gw dengan bisikan – bisikan nista di deket kuping gw. Tawa – tawa licik mereka berhasil merasuki pikiran gw dan mengganggu alam bawah sadar gw yang sedang berusaha mengeraskan genggaman kedua tangan gw. Konsentrasi gw buyar. Buyar. Buyar karena gw sempat tertawa menyemburkan cipratan saliva yang gw pikir – pikir semestinya memang tidak perlu disembur – semburkan. Apalagi disemburkan di studio rekaman Trans TV. Ahk, terima kasih, ini berkat dua makhluk itu, gw jadi mengerti kalo saliva tidak perlu disembur- semburkan ketika kita sedang tertawa dengan posisi bibir terkunci rapat.
“Okeh, sekarang buka mata anda. Lepaskan genggaman tangan anda. Yang tidak bisa lepas, ke depan, baru nanti akan saya lepas”
Dan, ajaib, tidak seperti yang gw kira, genggaman tangan gw lepas. Lepas dengan terlalu mudahnya saudara – saudara. Terlalu ringan. Berbeda dengan 3 teman gw yang lain, yang dengan serius mendengarkan sugesti Pak Romy. Tangan mereka terkunci dalam gengamannya sendiri. Bener2 keras nggak bisa dibuka. Parah. Ada sekitar 10 penonton yang maju karena tangannya mengeras. Hm, sedangkan tangan gw, dengan ringannya gw pake buat nabokin kedua makhluk itu (bercanda deng..)
Dari peristiwa tersebut, ternyata gw bisa mengambil satu kesimpulan yang dalem banget (well, at least, menurut gw sendiri). Bahwa pendapat dari sahabat ataupun orang terdekat kita ternyata lebih mempunyai efek samping yang lebih besar terhadap pikiran kita. Sugesti dahsyat dari Romy Rafael yang masuk ke pikiran gw aja bisa kalah ketika ocehan kecil dari dua makhluk yang mana adalah sahabat baik gw itu terdengar di telinga gw. Itulah teman. Itulah Sahabat. Itulah orang terdekat kita. Every little thing they say, every little thing they do, punya arti yang bermakna dan berharga buat diri kita. Trully, it’s even more than I’m thinking of..
“cihuuuy ahuuuy… (^o^)
kita masuk tivi juga akhirnyah…”
~mirra ndira sheila
Nah, di episode kedua yang kita jabanin ini yang ternyata lebih seru. Tentang Hypnotherapy. Ho, seselesainya episode pertama, Dorce keluar untuk berganti pakaian dan make’up. Tiba – tiba Pak Romy Rafael masuk ke dalem studio. Hiya, genteng ganteng. Sekali lagi, ganteng saudara – saudara. Kenapa ya kalo artis tu bagusan keliatan aslinya? Anyway, abis terpana dengan penampilan Romy, tiba – tiba ada suara bisik – bisik centil dari dua makhluk di sebelah kiri gw.
“Gawat ni gawat, kita’ mau diapain nih bu?”
“Iya ni mpok, gw mah ogah disuru aneh2 ama Romy Rapael..”
“Hiiiii, mana nanti kita’ kan masuk tivi. Malu ah kalo dihipnotis yang enggak2. Bikin malu ajah.”
“Dir, gw tau, pokonya kita’ nggak boleh dengerin kata2nya dia. Jangan sampe kita’ keipnotis sama tu orang”
“Bener ya Mir ya, nanti kita ketawa2 berdua aja pas dia lagi ngipnotis kita’. Jangan didengerin.”
Heyyaah, dua makhluk itu adalah Mirra Mbok Jamu dan Dira Gadis Comel. Sekawan permainan ama gw. Kalo di kampus, hampir tiap hari gw maennya ama mereka. Nggak heran bahasa pemilihan kata dan logat ngomong gw jadi tambah parah sejak berkawan dengan mereka, terutama sejak sama si Mbok Jamu itu. Romy Rafael langsung mau melakukan tes sugesti ke penonton sebelum acara dimulai. Tujuannya buat nyari penonton yang emang bener2 serius mau dengerin omongan dia (tentunya bukan gw, bukan mirra, dan bukan dira). Tes sugesti pertama, penonton disuruh tutup mata, mengangkat kedua lengan lurus sejajar bahu ke depan terus dengerin kata2 dia. “Yak, bayangkan secara nyata bla bla bla di tangan kanan anda ada buku yang sangat berat. Berat, berat, berat, tangan anda sampai tak kuat menahannya. Kemudian bayangkan secara nyata bla bla bla di tangan kiri anda memegang banyak balon yang membuat tangan anda merasa ringan. Tangan anda perlahan – lahan mulai ikut diterbangkan balon – balon tersebut. Bla bla bla bla. Sekarang, buka mata anda.” Dan hasilnya, tangan kanan gw mengarah ke bawah dan tangan kiri gw mengarah ke atas. Posisi tangan yang tidak wajar. Yak, tes sugesti massal pertama berhasil buat gw. Dua makhluk itu? Tentu tidak berhasil, karena ketika pak Romy Rafael berusaha mensugesti pikiran para penonton, mereka berdua malah komat kamit ketawa ketiwi tidak jelas. Alhasil, posisi tangan si Mbok Jamu dan Gadis Comel tidak berubah sama sekali. Mereka tidak serius saudara – saudara. Dalam hati, gw tertawa. Hahaha.
Ho, gw berhasil melanjutkan ke tes sugesti kedua. Penonton disuru tutup mata lagi, kedua tangan diangkat lurus ke atas dan dikatupkan genggamannya sekuat mungkin. “Kali ini saya akan membuat tangan anda menempel tidak dapat dilepas. Hanya dapat dilepas sampai saya sentuh kembali. Dalam hitungan ke 5 genggaman anda 1000 kali lebih kuat. Lebih keras. Lebih kuat. Bla bla bla bla”. Merasa bangga dengan keberhasilannya menangkis sugesti dahsyat pak Romy Rafael yang mengenai hampir semua penonton, kedua makhluk itu mulai menggoda gw dengan sugesti bisik – bisik ala mereka.
“Dir, dir, si Sheila kena tuh. Hihihi”
“Iya, iiiih. Bisa kena segala. Hahahaha”
“Hihihihi. Aneh ya. Bisa ampe kena”
“Iya, hahaha. Masa bisa kena sih”
“Dir, si Sheila mukanya serius banget. Tuh, liat deh”
“iiiih, iya. Serius banget. Pantesan kena ya mir?”
“Hihihihihihi”
“Hahahaha”
“Dir, dir, keteknya Sheila basah Dir!”
“Mana,mana? Iiiih, iyaaa basaaaah”
“Hihihihihi”
“Huahhahahaha”
Sialan! Dua makhluk itu berhasil menjerat pikiran gw dengan bisikan – bisikan nista di deket kuping gw. Tawa – tawa licik mereka berhasil merasuki pikiran gw dan mengganggu alam bawah sadar gw yang sedang berusaha mengeraskan genggaman kedua tangan gw. Konsentrasi gw buyar. Buyar. Buyar karena gw sempat tertawa menyemburkan cipratan saliva yang gw pikir – pikir semestinya memang tidak perlu disembur – semburkan. Apalagi disemburkan di studio rekaman Trans TV. Ahk, terima kasih, ini berkat dua makhluk itu, gw jadi mengerti kalo saliva tidak perlu disembur- semburkan ketika kita sedang tertawa dengan posisi bibir terkunci rapat.
“Okeh, sekarang buka mata anda. Lepaskan genggaman tangan anda. Yang tidak bisa lepas, ke depan, baru nanti akan saya lepas”
Dan, ajaib, tidak seperti yang gw kira, genggaman tangan gw lepas. Lepas dengan terlalu mudahnya saudara – saudara. Terlalu ringan. Berbeda dengan 3 teman gw yang lain, yang dengan serius mendengarkan sugesti Pak Romy. Tangan mereka terkunci dalam gengamannya sendiri. Bener2 keras nggak bisa dibuka. Parah. Ada sekitar 10 penonton yang maju karena tangannya mengeras. Hm, sedangkan tangan gw, dengan ringannya gw pake buat nabokin kedua makhluk itu (bercanda deng..)
Dari peristiwa tersebut, ternyata gw bisa mengambil satu kesimpulan yang dalem banget (well, at least, menurut gw sendiri). Bahwa pendapat dari sahabat ataupun orang terdekat kita ternyata lebih mempunyai efek samping yang lebih besar terhadap pikiran kita. Sugesti dahsyat dari Romy Rafael yang masuk ke pikiran gw aja bisa kalah ketika ocehan kecil dari dua makhluk yang mana adalah sahabat baik gw itu terdengar di telinga gw. Itulah teman. Itulah Sahabat. Itulah orang terdekat kita. Every little thing they say, every little thing they do, punya arti yang bermakna dan berharga buat diri kita. Trully, it’s even more than I’m thinking of..
“cihuuuy ahuuuy… (^o^)
kita masuk tivi juga akhirnyah…”
~mirra ndira sheila
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA!!!
@seorang manusia yang sedang dibutakan oleh cinta sesaat dan tak melihat cinta abadi di dekatnya, akupun pernah mengalaminya..satu pesan tolong jangan pernah kamu berpikir bahwa kamu lebih tahu segalanya dari dia..kamu adalah dunianya sepanjang dia hidup karena itu tidak akan pernah ia melupakan apa dan siapa kamu walau sedetik:
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu bagaimana ekspresi wajahmu ketika pertama kali menghirup nafas di dunia ini...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu bagaimana suara rengek dan tangismu ketika meminta dibelikan robot kabutaku...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu bagaimana terlukanya kaki dan dagumu ketika pertama kali kamu berjalan dan terjatuh...
DIA juga BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu kalimat apa yang kamu ucapkan untuk pertama kalinya..
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti bagaimana kamu menjerit - jerit ketika melihat kecoa...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti bagaimana kamu selalu terlalu banyak mengambil daging merah setiap makan di hanamasa...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti bagaimana kamu marah memaki ketika seragammu belum diangkat dari jemuran dan disetrika...
DIA juga BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti caranya melindungi kamu bila papa sedang memarahimu..
Sadarkah kamu betapa dalamnya arti kata DIA BUKAN SIAPA – SIAPA?
Lalu mengapa sekarang kamu bersikap seolah2 tahu segalanya yang ada di dunia ini?
Mengapa sekarang kamu seolah2 melupakan segala pengorbanannya sampai kamu sudah sebesar ini?
Mengapa sekarang kamu menggunakan lidah itu untuk memaki setelah menyuruhnya mengukir nama si seorang bukan siapa2?
Mengapa? Mengapa? Mengapa? sadarkah hey, big>DIA BUKAN SIAPA - SIAPA!!!
BUTA. menutup mata seolah2 memakai kacamata KUDA.
TULI. menutup telinga seolah2 mendengar LEBAH mendengung.
melihat hanya keburukan semata.
lihat juga dong pengorbanannya!!! lihat juga dong deritanya!!!
kamu tahu, saya tahu, ia tahu. tapi jangan sok tahu, karena bukan kamu yang menderita.
P.S mama jangan sedih ya mah, anak2mu ini memang sering melupakan siapa mama T__T yang sabar ya ma, kk selalu ada di sisi mama..pasti berat menjadi seorang ibu..bukan cuma ngelahirin seorang anak ke dunia tapi juga ngebesarin dan ngerawat si anak sampai nanti detik mama habis..mama, hueeee sabar ya maaaaa beneran deh kalo kk dah jadi mama pasti udah banting2 kursi, gelas, sama piring T__T cepcepcep kk sayang mamah <3
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu bagaimana ekspresi wajahmu ketika pertama kali menghirup nafas di dunia ini...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu bagaimana suara rengek dan tangismu ketika meminta dibelikan robot kabutaku...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu bagaimana terlukanya kaki dan dagumu ketika pertama kali kamu berjalan dan terjatuh...
DIA juga BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang tahu kalimat apa yang kamu ucapkan untuk pertama kalinya..
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti bagaimana kamu menjerit - jerit ketika melihat kecoa...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti bagaimana kamu selalu terlalu banyak mengambil daging merah setiap makan di hanamasa...
DIA BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti bagaimana kamu marah memaki ketika seragammu belum diangkat dari jemuran dan disetrika...
DIA juga BUKAN SIAPA - SIAPA karena bukan dia yang mengerti caranya melindungi kamu bila papa sedang memarahimu..
Sadarkah kamu betapa dalamnya arti kata DIA BUKAN SIAPA – SIAPA?
Lalu mengapa sekarang kamu bersikap seolah2 tahu segalanya yang ada di dunia ini?
Mengapa sekarang kamu seolah2 melupakan segala pengorbanannya sampai kamu sudah sebesar ini?
Mengapa sekarang kamu menggunakan lidah itu untuk memaki setelah menyuruhnya mengukir nama si seorang bukan siapa2?
Mengapa? Mengapa? Mengapa? sadarkah hey, big>DIA BUKAN SIAPA - SIAPA!!!
BUTA. menutup mata seolah2 memakai kacamata KUDA.
TULI. menutup telinga seolah2 mendengar LEBAH mendengung.
melihat hanya keburukan semata.
lihat juga dong pengorbanannya!!! lihat juga dong deritanya!!!
kamu tahu, saya tahu, ia tahu. tapi jangan sok tahu, karena bukan kamu yang menderita.
P.S mama jangan sedih ya mah, anak2mu ini memang sering melupakan siapa mama T__T yang sabar ya ma, kk selalu ada di sisi mama..pasti berat menjadi seorang ibu..bukan cuma ngelahirin seorang anak ke dunia tapi juga ngebesarin dan ngerawat si anak sampai nanti detik mama habis..mama, hueeee sabar ya maaaaa beneran deh kalo kk dah jadi mama pasti udah banting2 kursi, gelas, sama piring T__T cepcepcep kk sayang mamah <3
SUARA HATI SEORANG PENYAKITAN
mengiris dan menyayat..
hmmm,hei,apalagi yang sedang kamu lakukan di dalam sana?
selain itu dooong..
yang laiiiin..
iya,selain mengiris dan menyayat kamu ngapain lagi?
ngk ngerti?
iiiih,aku cuma nanya, ngapain aja kamu di dalem slama 5 tahun ini?
yampun,gimana sih..
masa kamu ngk tau?
agustus 2004 bukannya kamu pernah ngasi kebahagiaan nomor 1 buat si hati?
HA?KAMU NGK INGET?TEGA!!
hmm,kalo gitu oktober 2004,kan kamu pernah tu ngasi kenangan lucu berwarna biru yg ngk bkl dilupain si hati berwarna merah?
hehe,pasti inget kan kamu..
pas april 2005 jg kamu ngasi si hati kenangan lain yg berharga lho..
eh tapi setiap hari jg kamu selalu ngasi kenangan berharga deng buat si hati..
MAKASIH YA :))
tuh kan kamu sebenernya ngk selalu mengiris dan menyayat si hati kok..
tp juli 2005,itu kamu mengirisnya terlalu dalam..
sampai aku ngk bisa lagi bernafas..
irisannya pun masih tetap membekas..
juni 2009,brarti bulan aku nulis ini,yah jujur aja aku masih megap2 mencari udara untuk nyawa hatiku..
atau plester atau apapun untuk menambal irisan itu..
sungguh,kamu sudah MENGIRISNYA TERLALU DALAM..
dasar kamu si RAJA TEGA!!
tapi hati butuh kamu..
tolong,cuma kamu yang punya obatnya..
hmmm,hei,apalagi yang sedang kamu lakukan di dalam sana?
selain itu dooong..
yang laiiiin..
iya,selain mengiris dan menyayat kamu ngapain lagi?
ngk ngerti?
iiiih,aku cuma nanya, ngapain aja kamu di dalem slama 5 tahun ini?
yampun,gimana sih..
masa kamu ngk tau?
agustus 2004 bukannya kamu pernah ngasi kebahagiaan nomor 1 buat si hati?
HA?KAMU NGK INGET?TEGA!!
hmm,kalo gitu oktober 2004,kan kamu pernah tu ngasi kenangan lucu berwarna biru yg ngk bkl dilupain si hati berwarna merah?
hehe,pasti inget kan kamu..
pas april 2005 jg kamu ngasi si hati kenangan lain yg berharga lho..
eh tapi setiap hari jg kamu selalu ngasi kenangan berharga deng buat si hati..
MAKASIH YA :))
tuh kan kamu sebenernya ngk selalu mengiris dan menyayat si hati kok..
tp juli 2005,itu kamu mengirisnya terlalu dalam..
sampai aku ngk bisa lagi bernafas..
irisannya pun masih tetap membekas..
juni 2009,brarti bulan aku nulis ini,yah jujur aja aku masih megap2 mencari udara untuk nyawa hatiku..
atau plester atau apapun untuk menambal irisan itu..
sungguh,kamu sudah MENGIRISNYA TERLALU DALAM..
dasar kamu si RAJA TEGA!!
tapi hati butuh kamu..
tolong,cuma kamu yang punya obatnya..
DEAD CORPSE and CRAZY DOCTOR on YM
conversation chatting ym via BB dan WAP MODE XDA 2 dengan pria kalong berjari laba2 di suatu tengah pagi!!!!sumpah baru tau gw kalo chat via wap mode tuh cuma bisa baca TIGA BARIS di LAYAR..haissss..percuma oh percuma mengetik sepanjang inih..anyway untungnya BB canggih bisa ngesave last conversation :)) begini ceritanya saudara2..jererennnng dreeennnggg..
----------------------------------------------------------------------------
Dikkkk,masi idup?
Dik,uda mati ya?
BUZZ!!!
Tidur ya?
Setrum lagi
BUZZ!!!
Lagi
BUZZ!!!
Lagi
BUZZ!!!
Maaf dok sepertinya pasien sudah tidak ada harapan lg
*TUUUUTTTTT
Ya sudah,bungkus dia
Sebentar, coba setrum lagi sus
BUZZ!!!
Lagi
BUZZ!!!
Lagi sus yg kenceng!!
BUZZ!!!
Tambah voltnya
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
Oke dia memang sudah mati
Bungkus dan Kubur dia
Baik,siap dok
*niluuuuliiiluuuu liluuuutttt
*ambulan pun tiba di pemakaman
Dok,dokter yakin dia sudah tiada?
Yah saya ngk yakin sus
Loh dokter gimana sih
Yaudah setrum lg deh sus
Oke dok
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
Hah sinih saya yg nyetrum
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
Hadu emang bebal ni orang
Positif mati sus
Oke kita kubur ya dok
Laksanakan!
*srok srok srok
Segini dalem ngk dok?
Kurang mas
*srok srok srok
Segini dok?
Oke pas
*gusrak gusrak gusrak
Ya ampun mas jgn dilempar gitu dong mayatnya
*gusrak gubrak
Yampun dibanting pula
Hadu maap dok kbiasaan lempar karung
Yaudah cepet tutup lubangnya
*srok srok srok
*srok srok srok
Dah dok beres
Oke
Upah kami mana dok?
Nih *sehelai kain putih
Lha kok upahnya kaen sih dok?
Iya biar kelian siap kalo matinya tiba2 seperti mayat yg tadi udah kita kubur
Dy mati pas lg YM'an
Oh gitu dok?dy mati pas lg YM'an?keren bgt!!
Ya iyalah OFF kan artinya MATi
Kalian gimana sih
*bengong
*ternyata yg gila dokternya
----------------------------------------------------------------------------
hemmm lucu kan lucu kannn =)) gyagyagyagya pasti lagi pada ketawa dehh (hidih orang gila dasar)..hyahyahya satu pesan saya, ketika pasangan ym anda tiba2 mati ketika anda sedang cerita mungkin anda harus coba hal - hal aneh seperti yang saya lakukan..percayalah hal - hal tak terduga akan anda dapatkan..salah satunya adalah menyadari bahwa anda pun BISA JADI GILA MENDADAK..gyahahahahaha =))
*dik terimakasih sudah menemani ERRORnya dokter gila saat itu ya :))
----------------------------------------------------------------------------
Dikkkk,masi idup?
Dik,uda mati ya?
BUZZ!!!
Tidur ya?
Setrum lagi
BUZZ!!!
Lagi
BUZZ!!!
Lagi
BUZZ!!!
Maaf dok sepertinya pasien sudah tidak ada harapan lg
*TUUUUTTTTT
Ya sudah,bungkus dia
Sebentar, coba setrum lagi sus
BUZZ!!!
Lagi
BUZZ!!!
Lagi sus yg kenceng!!
BUZZ!!!
Tambah voltnya
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
Oke dia memang sudah mati
Bungkus dan Kubur dia
Baik,siap dok
*niluuuuliiiluuuu liluuuutttt
*ambulan pun tiba di pemakaman
Dok,dokter yakin dia sudah tiada?
Yah saya ngk yakin sus
Loh dokter gimana sih
Yaudah setrum lg deh sus
Oke dok
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
Hah sinih saya yg nyetrum
BUZZ!!!
BUZZ!!!
BUZZ!!!
Hadu emang bebal ni orang
Positif mati sus
Oke kita kubur ya dok
Laksanakan!
*srok srok srok
Segini dalem ngk dok?
Kurang mas
*srok srok srok
Segini dok?
Oke pas
*gusrak gusrak gusrak
Ya ampun mas jgn dilempar gitu dong mayatnya
*gusrak gubrak
Yampun dibanting pula
Hadu maap dok kbiasaan lempar karung
Yaudah cepet tutup lubangnya
*srok srok srok
*srok srok srok
Dah dok beres
Oke
Upah kami mana dok?
Nih *sehelai kain putih
Lha kok upahnya kaen sih dok?
Iya biar kelian siap kalo matinya tiba2 seperti mayat yg tadi udah kita kubur
Dy mati pas lg YM'an
Oh gitu dok?dy mati pas lg YM'an?keren bgt!!
Ya iyalah OFF kan artinya MATi
Kalian gimana sih
*bengong
*ternyata yg gila dokternya
----------------------------------------------------------------------------
hemmm lucu kan lucu kannn =)) gyagyagyagya pasti lagi pada ketawa dehh (hidih orang gila dasar)..hyahyahya satu pesan saya, ketika pasangan ym anda tiba2 mati ketika anda sedang cerita mungkin anda harus coba hal - hal aneh seperti yang saya lakukan..percayalah hal - hal tak terduga akan anda dapatkan..salah satunya adalah menyadari bahwa anda pun BISA JADI GILA MENDADAK..gyahahahahaha =))
*dik terimakasih sudah menemani ERRORnya dokter gila saat itu ya :))
Mimpi Semalam
S: eh, eh, kita sampe kapan?
E: nggak tau
S: kalo kamu maunya sampe kapan?
E: nggak tau
S: kalo aku, sampe nanti nggak bisa ketemu kamu sekalipun, masih tetep sayang kamu
E: bisa?
S: bisa
(dalam hati. lirih. yang gw ingat dari mimpi kemarin malam)
E: nggak tau
S: kalo kamu maunya sampe kapan?
E: nggak tau
S: kalo aku, sampe nanti nggak bisa ketemu kamu sekalipun, masih tetep sayang kamu
E: bisa?
S: bisa
(dalam hati. lirih. yang gw ingat dari mimpi kemarin malam)
Merah Marah Merah Merah
api merah ketika disimbolkan
lampu merah ketika tidak hijau dan kuning
darah merah ketika tidak biru
wajah merah ketika marah
pipi merah ketika merona
mata merah ketika menangis
hati merah ketika apa?
hati merah ketika ia tidak merah karena diperah berdarah..
hati merah ketika ia tidak merah karena marah..
hati merah ketika ia tidak merah karena sakit yg parah..
hati merah ketika apa?
lampu merah ketika tidak hijau dan kuning
darah merah ketika tidak biru
wajah merah ketika marah
pipi merah ketika merona
mata merah ketika menangis
hati merah ketika apa?
hati merah ketika ia tidak merah karena diperah berdarah..
hati merah ketika ia tidak merah karena marah..
hati merah ketika ia tidak merah karena sakit yg parah..
hati merah ketika apa?
Mungkin dan Memori Itu
segala kemungkinan yg mungkin terjadi pada diri gw apabila dihubungkan dgn memori itu:
mungkin kalo gw terserang amnesia, pasti cuma memori itu doang yg pertama gw inget.
mungkin kalo pendengaran gw udah memburuk, cuma suara memori itu yg masih jelas terdengar.
mungkin kalo gw udah pikun, pasti cuma memori itu yg satu2nya gw inget.
mungkin kalo mata gw udah rabun siwer, cuma memori itu yg bisa gw liat di kepala gw.
mungkin kalo gw lagi sakit, cuma memori itu yg bisa memacu kesembuhan gw.
mungkin kalo gw udah ngk ada sekalipun, cuma memori itu doang yg masih ada..
mungkin kalo gw terserang amnesia, pasti cuma memori itu doang yg pertama gw inget.
mungkin kalo pendengaran gw udah memburuk, cuma suara memori itu yg masih jelas terdengar.
mungkin kalo gw udah pikun, pasti cuma memori itu yg satu2nya gw inget.
mungkin kalo mata gw udah rabun siwer, cuma memori itu yg bisa gw liat di kepala gw.
mungkin kalo gw lagi sakit, cuma memori itu yg bisa memacu kesembuhan gw.
mungkin kalo gw udah ngk ada sekalipun, cuma memori itu doang yg masih ada..
titik(.) TANPA koma(,)
TITIK (.) minggu 030705
saat itu ku berpikir semua hal akan berakhir dgn titik. "the end of everything" akhir dari semua kata, semua kalimat, semua ucap, dan semua rasa. semua hal yg pernah dilalui berhenti. tak lagi bergerak. tak lagi berjalan seperti sebelumnya. berhenti di satu titik. ya,itu seharusnya. kurasa aku berpikir seperti itu hari itu. layaknya seorang biasa yg membaca TITIK.
KOMA (,) senin 180509
hari ini aku masih saja mengalami koma, sudah banyak koma yg aku alami berkali - kali selama 4 tahun ini, titik yang kukira akhir segalanya telah berubah menjadi koma, namun tak pernah sama sekali koma itu berubah menjadi titik, aku lelah, sangat, ia tak pernah berakhir, ia tak pernah berhenti, mengisi pikiranku setiap hari, berbekal kenangan dan harapan, ia terus melanjutkan ceritanya, dalam kepalaku, berlaju dalam waktu, ia tak pernah usai, mengikutiku, takkan pernah berhenti,
*seandainya saat itu titik tak perlu berkoma,mungkin saat ini aku sudah bahagia,
saat itu ku berpikir semua hal akan berakhir dgn titik. "the end of everything" akhir dari semua kata, semua kalimat, semua ucap, dan semua rasa. semua hal yg pernah dilalui berhenti. tak lagi bergerak. tak lagi berjalan seperti sebelumnya. berhenti di satu titik. ya,itu seharusnya. kurasa aku berpikir seperti itu hari itu. layaknya seorang biasa yg membaca TITIK.
KOMA (,) senin 180509
hari ini aku masih saja mengalami koma, sudah banyak koma yg aku alami berkali - kali selama 4 tahun ini, titik yang kukira akhir segalanya telah berubah menjadi koma, namun tak pernah sama sekali koma itu berubah menjadi titik, aku lelah, sangat, ia tak pernah berakhir, ia tak pernah berhenti, mengisi pikiranku setiap hari, berbekal kenangan dan harapan, ia terus melanjutkan ceritanya, dalam kepalaku, berlaju dalam waktu, ia tak pernah usai, mengikutiku, takkan pernah berhenti,
*seandainya saat itu titik tak perlu berkoma,mungkin saat ini aku sudah bahagia,
Angin dan Memori
Suatu hari aku duduk di teras belakang rumah. Ketika senja masih lama. Ketika usia langit adalah warna biru cerah dengan kapas-kapas putih bergelantungan. Sayup-sayup ku dengar bisikannya dalam kepalaku.
“Oh, hai angin”
Dibelainya pipiku dengan halus. Ku pejamkan mata hingga hampir terlelap. Perlahan ku dengar angin berbisik perlahan, ”Tunggu dan mungkin nanti kau akan tahu”
Ku turuti. Bersamanya aku mengalir kemana ia berhembus.
Ku tunggu. Tunggu. Tunggu. dan Tunggu.
Satu tahun. Dua tahun. Tiga tahun.
Tak ada kata ataupun kalimat yang membuat ku kembali berpijak ke bumi. Angin terus membawaku kemana ia pergi. Tiada hentinya ia membuaiku dengan kisah-kisah lama yang membuat hidungku kembali mencium wangi rambutnya di pagi hari. Terkadang lidahku tak sadar mengecap coklat manis darinya.
“Angin, aku butuh jawaban. Haruskah aku menunggu? Terus berkelana bersamamu?”
Angin diam. Angin tidak menjawab. Angin pergi?
Hampir tidak ada lagi semilir udara di sini. Sesak dan hampa. Sulit untuk bernafas.
“Oh tidak! Angin, kumohon jangan pergi. Meski menyakitkan tapi sungguh aku ingin terus dibuai olehmu. Kamulah sumber inspirasiku. Tanpamu, aku ini hanya hampa”
Mungkin angin sedang pergi sebentar, pikirku. Baiklah. Aku akan menunggu lagi. Mungkin angin akan pulang.
Satu tahun. Dua Tahun. Tiga Tahun.
Genap sudah enam tahun aku menunggu angin datang. Menunggunya membawaku pulang ke bumi. Menunggunya kembali untuk menyadarkanku bahwa kisah-kisah itu sudah telampau lama dan berkarat. Berkarat sehingga waktu tidak lagi dapat menunjukkan tahun, bulan, hari, dan jam. Karat yang melukai kulit dan menunjukkan bahwa darah berwarna merah. Aku terlunta tersadar bahwa angin tidak akan pernah datang kembali. Aku terlunta dalam dunianya. Dunia dimana aku hanyalah seseorang yang hidup dalam bayangan ekstasi tentangnya.
Angin bajingan! Memori biadab! Aku harus pulang sendiri. Kembali pada bumi dan kenyataan bahwa aku sudah dicampaknya. Dihempas jauh-jauh ke langit. Jauh di atas sana hingga yang dapat ku lakukan hanya menatapnya dari kejauhan tanpa pernah bisa menyentuhnya.
Biadab! Sungguh biadab! Mampuslah kau, angin!
15 Februari 2011. Aku telah pulang ke bumi. Duduk manis di teras belakang rumahku memeluk boneka biru darinya. Kulihat langit berwarna biru pucat. Usianya tidak lagi dapat mencerahkan hati seseorang. Angin berlalu kecil. Namun apalah ia. Angin hanyalah angin dan memori hanyalah memori.
“Oh, hai angin”
Dibelainya pipiku dengan halus. Ku pejamkan mata hingga hampir terlelap. Perlahan ku dengar angin berbisik perlahan, ”Tunggu dan mungkin nanti kau akan tahu”
Ku turuti. Bersamanya aku mengalir kemana ia berhembus.
Ku tunggu. Tunggu. Tunggu. dan Tunggu.
Satu tahun. Dua tahun. Tiga tahun.
Tak ada kata ataupun kalimat yang membuat ku kembali berpijak ke bumi. Angin terus membawaku kemana ia pergi. Tiada hentinya ia membuaiku dengan kisah-kisah lama yang membuat hidungku kembali mencium wangi rambutnya di pagi hari. Terkadang lidahku tak sadar mengecap coklat manis darinya.
“Angin, aku butuh jawaban. Haruskah aku menunggu? Terus berkelana bersamamu?”
Angin diam. Angin tidak menjawab. Angin pergi?
Hampir tidak ada lagi semilir udara di sini. Sesak dan hampa. Sulit untuk bernafas.
“Oh tidak! Angin, kumohon jangan pergi. Meski menyakitkan tapi sungguh aku ingin terus dibuai olehmu. Kamulah sumber inspirasiku. Tanpamu, aku ini hanya hampa”
Mungkin angin sedang pergi sebentar, pikirku. Baiklah. Aku akan menunggu lagi. Mungkin angin akan pulang.
Satu tahun. Dua Tahun. Tiga Tahun.
Genap sudah enam tahun aku menunggu angin datang. Menunggunya membawaku pulang ke bumi. Menunggunya kembali untuk menyadarkanku bahwa kisah-kisah itu sudah telampau lama dan berkarat. Berkarat sehingga waktu tidak lagi dapat menunjukkan tahun, bulan, hari, dan jam. Karat yang melukai kulit dan menunjukkan bahwa darah berwarna merah. Aku terlunta tersadar bahwa angin tidak akan pernah datang kembali. Aku terlunta dalam dunianya. Dunia dimana aku hanyalah seseorang yang hidup dalam bayangan ekstasi tentangnya.
Angin bajingan! Memori biadab! Aku harus pulang sendiri. Kembali pada bumi dan kenyataan bahwa aku sudah dicampaknya. Dihempas jauh-jauh ke langit. Jauh di atas sana hingga yang dapat ku lakukan hanya menatapnya dari kejauhan tanpa pernah bisa menyentuhnya.
Biadab! Sungguh biadab! Mampuslah kau, angin!
15 Februari 2011. Aku telah pulang ke bumi. Duduk manis di teras belakang rumahku memeluk boneka biru darinya. Kulihat langit berwarna biru pucat. Usianya tidak lagi dapat mencerahkan hati seseorang. Angin berlalu kecil. Namun apalah ia. Angin hanyalah angin dan memori hanyalah memori.
Tak Lagi di Sini
oh tuhan, ya ia disana..
disana, menatap dgn tampan..
tatapan rupawan menawan hati..
pergi sudah, hati ini tak lagi disini..
oh tuhan, ya ia tak lagi disini..
disini, retak terpetak dalam telak..
terpelanting dan terbanting..
tenang sudah, hati itu tak lagi disini..
disana, menatap dgn tampan..
tatapan rupawan menawan hati..
pergi sudah, hati ini tak lagi disini..
oh tuhan, ya ia tak lagi disini..
disini, retak terpetak dalam telak..
terpelanting dan terbanting..
tenang sudah, hati itu tak lagi disini..
Tuesday, February 15, 2011
Kertas Buram ke-7031
1 – 365
terlahir masih terlunta. telentang terselimuti kain bedong bermotif polos.
melihat saja susah, apalagi berbicara. ah ah ah itu siapa?
wajah yang setiap saat kulihat itu. mamaku? papaku?
366 – 730
aku melihat wajah – wajah itu. wajah – wajah yang tidak ku kenal.
mereka mencubiti pipiku. mengelus – elus rambutku.
menggodaku dengan kata ‘cilukba’ dan ‘bakekok’.
huh ramai dan berisik sekali. aku kan ingin tidur.
hei hei siapa ini yang mengangkatku dari lantai dan menyelamatkanku?
731 – 1095
ah sepertinya aku benar. dua orang itu adalah mama dan papaku.
mereka membelikanku boneka susan berbaju biru.
susan berambut pirang bermata biru adalah teman pertamaku.
ayok susan kita menggambar bareng lagi.
aku yang gambar, kamu yang ngasih nilai yah.
1096 – 1460
susan sudah pergi. kami bertengkar tadi malam.
dia marah padaku karena aku punya teman baru bernama barbie.
barbie cantik yang datang dari malaysia.
susan tahu aku sangat menyukai boneka pirang.
susan menghilang. aku menangis ditemani mama.
1461 – 1825
aku marah. aku kesal dan aku sebal.
mama tidak lagi menggendong aku kemana – mana.
aku cemburu. aku iri dan aku dengki.
papa tidak lagi membelikanku boneka baru yang lucu.
siapa itu anak kecil yang mereka mandikan di bak kecil merahku?
1826 – 2190
yey yey yey lihat ayo lihat ini baju baruku yang bagus.
ini juga ni sepatu baru ada pita emasnya dari papa.
mana – mana ih punya kamu nggak bagus ah. bagusan punyaku wekk.
et et kamu nggak boleh pinjem.
2191 – 2555
pertama kalinya aku mendengar kata ‘sekolah’.
mama bilang aku harus sekolah biar pintar.
ya, aku harus pintar.
aku harus pintar supaya tahu bahwa bumi itu berputar.
2556 – 2920
salivaku menetes melihat teman – temanku menikmati es mambo.
mama tidak membolehkanku jajan es mambo berwarna merah itu.
paru – paruku kurang baik entah kenapa aku tak mengerti.
belakangan aku baru mengerti kalau itu bronchitist.
Masih banyak hal yang masih aku tidak mengerti, mama. Bahkan sampai hariku yang ke-7031 ini, aku masih saja menyusahkanmu. Ulang tahunku yang ke-21. Hariku yang ke-7031. Ku tuliskan semuanya di selembar kertas buram ini, sebuah ucapan terima kasih untukmu yang telah melahirkan dan membesarkanku sampai hari ini. Terima kasih, mama. Juga papa.
terlahir masih terlunta. telentang terselimuti kain bedong bermotif polos.
melihat saja susah, apalagi berbicara. ah ah ah itu siapa?
wajah yang setiap saat kulihat itu. mamaku? papaku?
366 – 730
aku melihat wajah – wajah itu. wajah – wajah yang tidak ku kenal.
mereka mencubiti pipiku. mengelus – elus rambutku.
menggodaku dengan kata ‘cilukba’ dan ‘bakekok’.
huh ramai dan berisik sekali. aku kan ingin tidur.
hei hei siapa ini yang mengangkatku dari lantai dan menyelamatkanku?
731 – 1095
ah sepertinya aku benar. dua orang itu adalah mama dan papaku.
mereka membelikanku boneka susan berbaju biru.
susan berambut pirang bermata biru adalah teman pertamaku.
ayok susan kita menggambar bareng lagi.
aku yang gambar, kamu yang ngasih nilai yah.
1096 – 1460
susan sudah pergi. kami bertengkar tadi malam.
dia marah padaku karena aku punya teman baru bernama barbie.
barbie cantik yang datang dari malaysia.
susan tahu aku sangat menyukai boneka pirang.
susan menghilang. aku menangis ditemani mama.
1461 – 1825
aku marah. aku kesal dan aku sebal.
mama tidak lagi menggendong aku kemana – mana.
aku cemburu. aku iri dan aku dengki.
papa tidak lagi membelikanku boneka baru yang lucu.
siapa itu anak kecil yang mereka mandikan di bak kecil merahku?
1826 – 2190
yey yey yey lihat ayo lihat ini baju baruku yang bagus.
ini juga ni sepatu baru ada pita emasnya dari papa.
mana – mana ih punya kamu nggak bagus ah. bagusan punyaku wekk.
et et kamu nggak boleh pinjem.
2191 – 2555
pertama kalinya aku mendengar kata ‘sekolah’.
mama bilang aku harus sekolah biar pintar.
ya, aku harus pintar.
aku harus pintar supaya tahu bahwa bumi itu berputar.
2556 – 2920
salivaku menetes melihat teman – temanku menikmati es mambo.
mama tidak membolehkanku jajan es mambo berwarna merah itu.
paru – paruku kurang baik entah kenapa aku tak mengerti.
belakangan aku baru mengerti kalau itu bronchitist.
Masih banyak hal yang masih aku tidak mengerti, mama. Bahkan sampai hariku yang ke-7031 ini, aku masih saja menyusahkanmu. Ulang tahunku yang ke-21. Hariku yang ke-7031. Ku tuliskan semuanya di selembar kertas buram ini, sebuah ucapan terima kasih untukmu yang telah melahirkan dan membesarkanku sampai hari ini. Terima kasih, mama. Juga papa.
Subscribe to:
Posts (Atom)

