Kalau dunia ini tidak abadi maka untuk apa semua dibuat berarti? Bermain-main saja. Setiap keputusan yang diambil toh katanya sudah diatur oleh yang di Atas. Jalan yang diambil hanya dirasa lewat sekelebat. Seperti pemandangan yang dilihat dari jendela kereta api atau pesawat terbang atau bis angkutan umum. Tergantung berapa uang yang kau punya. Diam menatap semua berlalu. Putih kemudian perlahan hijau lalu biru langit yang perlahan redup abu-abu dan lama-lama berakhir menjadi hitam.
Hidup itu perjalanan, bukan? Nikmati saja. Begitu katanya. Kadang harus mengejar. Kadang harus rela. Merelakan semua yang ada. Yang dulu katanya baik-baik saja. Yang dulu katanya ke depan akan lebih baik. Namun pada nyatanya, aku masih hanya bisa diam duduk di sini. Menatap mereka berdua bermain sandiwara di panggung rumah tangga. Di sekelilingku? Tidak ada siapa-siapa. Bahkan seorang pun. Sendiri. Hal yang biasa. Makanya aku tak peduli mereka teriak apa. Anjing. Babi. Monyet. Biadab. Bajingan. Setan. Telingaku sudah tuli dengan semua itu. Biasanya aku menatap mereka tanpa ekspresi. "Basi!!!", dalam hatiku. Dari dulu juga begitu.
Lain kesempatan, aku menonton mereka sembari menikmati santapan harianku. Santapan yang menambah beban. Menambah berat segala anggota tubuh. Badan, pikiran, emosi, otak, hati. Kudiamkan saja mereka berkoar-koar. Ini. Itu. Ini. itu. Ini itu. Persetan. Kadang aku tak peduli. Kadang aku pura-pura peduli. Harus bagaimana lagi? Sebagai penonton yang baik, aku harus memberi komentar atau sekedar ucapan basa-basi setiap kali salah satu dari mereka berhenti sejenak dan bertanya "Lalu harus bagaimana?". Seolah aku ini aktris terkenal saja.
Mana aku tahu. Mana aku peduli. Kalian aktornya, bukan? Mainkan saja semuanya. Sesuka kalian. Nikmati saja. Hidup ini hanya sekali. Oh mungkin itu sebabnya semua harus dibuat berarti. Tapi aku tak peduli. Aku tak peduli lagi. Semua terasa begitu-begitu saja. Berjuta kali perasaan jengah datang. Berkali-kali. Aku ingin teriak. Aku ingin pergi. Jenuh melihat dialog yang sama, intonasi tinggi yang senada, raut muka yang serupa. Berbelit-belit, melengking nyaring, dan... palsu.
"Terserah", hanya satu kata dari mulutku yang dapat terucap. Berkali-kali. Aku sudah tak peduli. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Mereka pun kembali beradu mulut. Menyalahkan yang satu lalu menikam yang satu lainya. Meninggalkan seorang penonton setia palsu yang komat kamit sendiri dalam hati. Dalam gelap. Tak terlihat.
Terserah. Terserah. Terserah. Terserah. Terserah...
1 comment:
Meninggalkan jejak kaki di tulisan ini..Hmm, hidup hanya sekali tapi bukan berarti semuanya terserah.. it's on your own. No, it's not With your own purpose. It's God purpose.. :)
Post a Comment