Monday, February 21, 2011

Perimeter Primer

Meratapi malam minggu ketiga bulan Februari tahun 2011 sama dengan menatap layar kosong komputer di depan wajahku. Hitam. Kosong. Rusak. Satu lagi, tak berfungsi. Tubuh CPU yang tidak dapat dinyalakan, keyboard yang sudah somplak, dan belum lagi kerusakan parah organ dalamnya. Komputer itu teronggok hampir terlupakan di pojok ruang tengah keluarga yang juga hampir terlupakan. Separuh bagian dari layarnya tertutup oleh serpihan debu abu-abu yang hampir hitam. Entah darimana debu-debu ini. Aku pernah mendengar bahwa 90% debu di rumah berasal dari kulit manusia atau serat-serat kain furnitur. Aku tiba-tiba bergidik geli memikirkan bagaimana tubuh manusia dapat terus menerus melepaskan serpihan kulit kecil tanpa terlihat oleh siapapun. Maksudku, sampai setebal debu-debu ini? Yaiks.

Apa yang sedang dilakukan orang lain sekarang, ya? Ada tiga kemungkinan pikirku. Yah, kalau tidak menghabiskan waktu dengan pacar, mungkin berkumpul dengan teman-teman sambil mengunjungi cafe atau mall di Jakarta. Pacar dan teman. Itu dua kemungkinan. Kemungkinan ketiga? Aku sedikit malas memikirkan kemungkinan yang ketiga. Beberapa menyebutnya sebagai rumah, sumber kehangatan, tempat bersandar, titik berangkat, titik pulang, dan masih banyak pengertian filosofis lainnya. Beberapa lain menyebutnya dengan lebih simpel; mereka menyebutnya keluarga. Hakikatnya, posisi keluarga dalam kehidupan seorang manusia adalah pada lingkaran perimeter pertama. Perimeter terdekat dengan nadi dan pembuluh darah.

Kembali aku membayangkan sedang menghabiskan malam minggu dengan keluarga sambil jalan-jalan di luar atau duduk-duduk manja menikmati film bioskop di salah satu stasiun TV di rumah. Namun semakin aku memikirkan seberapa besar peluangku untuk dapat menghabiskan akhir minggu dengan keluarga, semakin aku merasa jauh dan sendiri. Satu-satunya wajah yang menemaniku malam ini adalah pantulan bayangan di layar komputer. Ada aku di sana. Sedikit tertutup oleh serpihan debu-debu. Sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan antara bayanganku dengan wajahku yang sebenarnya. Sama-sama tertutup serpihan abu-abu. Serpihan abu-abu debu pada layar dan serpihan abu-abu abu pada wajah.

Dinding ruang tengah keluarga yang terlupakan kini disemarakkan warna jingga kemerahan. Rona kelam yang biasanya pucat diganti dengan rona gemilang jingga merayakan kemenangan dan kekuatan. Jilatan-jilatan lidah merah di halaman depan sana membuat sekujur tubuhku bermandikan kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan. Kurasakan sengatan panas api yang membakar mobil sedan keluargaku. Mobil itu baru saja memasuki halaman rumah ketika ledakan dahsyat di bawah kap mobil meledak. Dua buntalan tubuh manusia tergeletak di antara kepingan-kepingan metal yang berserakan. Ayah yang pemarah dan ibu yang pemabuk. Kombinasi yang pas sekali untuk anak yang sakit jiwa. Seharusnya mereka tidak membiarkanku berkarat sendirian di rumah ini. Sayang sekali. Selamat jalan untuk yang tidak pernah hadir. Selamat jalan untuk yang tidak pernah ada di sampingku. Selamat jalan untuk yang seharusnya menemaniku di setiap malam minggu.