there was once this girl in reality land who imagine great things that no one would understands
Thursday, February 17, 2011
Topeng Mozaik dan Kata Hitam
Selama ini saya mengira keluarga saya baik-baik saja. Namun semakin saya dewasa, saya melihat juga mendengar banyak cerita mengenai keluarga teman-teman saya yang lain. Bukannya saya tidak puas dengan kehidupan keluarga saya. Saya bahagia. Bahagia karena saya sudah ikhlas dan menerima apa adanya segala perubahan yang terjadi sejak bertahun-tahun lalu itu. Tahun 2006 tepatnya.
Semenjak tahun itu, semenjak kejadian itu, saya tidak pernah lagi mau bermanja-manja dan terlena dengan orang-orang besar yang seharusnya bisa saya jadikan tempat bersandar. Bayangkan saja, apa yang ada di kepala anda ketika saya menyebut kata "pengkhianatan"? Jejak-jejak perjalanan perubahan usia saya dari teenager menjadi young adult selalu dipenuhi dengan kata hitam itu. Dimulai dari keluarga saya sendiri lalu keluarga dari keluarga saya yang lain-lain. Awalnya saya terpukul menyadari begitu hitam dan palsunya wajah-wajah yang saya lihat selama ini. Di depan, seseorang dapat terlihat begitu putih bersih seolah tiada cacat sampai-sampai menjadi pujaan ibu mertua dan sanak saudaranya yang lain. Namun ternyata pujian-pujian yang saya dengar itu hanyalah perisai palsu yang sengaja diciptakan untuk melindungi keborokan di belakang mukanya. Kepercayaan saya runtuh seketika. Wajahnya hanya topeng. Wajah palsu yang tidak pantas dipandang. Tapi siapa saya berani mendiskreditkan seorang manusia hanya karena ia memakai topeng? Tuhan saja tidak memandang manusia secara subjektif seperti itu.
Topeng dan kata hitam itu pun terus mengiringi hidup saya, perjalanan saya mencari topeng demi kehidupan selanjutnya. Pencarian topeng apa yang akan saya kenakan dan peran apa yang harus saya jalankan berlangsung sangat panjang. Beberapa wajah palsu terngiang-ngiang dalam benak pikiran dan bersemayam lama hingga menciptakan suatu filosofi kehidupan yang saya yakini hingga sekarang. Tiada sesuatu yang sejati. Manusia. Manusia dan manusia. Manusia dan manusia dan manusia lainnya. Tidak ada yang kekal ataupun benar. Terlepas dari hubungan manusia kepada Tuhan. Mudahnya, coba lihat saja pengkhianatan yang dilakukan makna kepada kata. Interpretasi. Subjektivitas. Pemaknaan kata yang berbeda-beda oleh sekian banyak kepala, otak, dan pemikiran.
Tidak ada sesuatu yang sejati. Terlalu banyak sisi dari sisi dan sisi lain sebuah hal. Awalnya saya berusaha menemukan pijakan ataupun landasan dasar dari sistem yang berusaha saya pahami. Namun kemudian terjadi pengkhianatan lain yang bernama paradoks. Apa yang awalnya saya yakini sebagai sebuah kebenaran kemudian bertransformasi menjadi keyakinan-keyakinan lain yang kontradiktif. Lagi-lagi saya hanya bisa menggelengkan kepala dan hanya bisa tersenyum. Dengan filosofi ini, saya tidak pernah dapat dengan mudah mengambil keputusan. Selalu saja ada banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Lucunya, bahkan hingga saat keputusan telah diambil, saya tetap memikirkan hal-hal lain yang mungkin akan membawa saya ke hal yang lebih baik. Seringkali penyesalan ujungnya, ya saya mengerti.
Mungkin ini topeng yang saya temukan dalam pencarian saya selama ini. Satu topeng dengan banyak serpihan-serpihan sisi yang dipantulkan. Ketika manusia lain melihat saya, saya akan memutar wajah saya, secara vertikal, secara horizontal, berusaha memperlihatkan padanya bahwa banyak hal dalam hidup yang dapat dipandang. Banyak hal yang dapat dilihat selain satu sisi. Topeng yang berusaha untuk tidak subjektif ketika menatap kehidupan. Topeng yang objektif.
"We Should All Wear Polka Dots"
Jadi begini ceritanya. Tanpa ada angin apa-apa di tanggal 11 Februari kemarin tiba-tiba punggung bagian kiri saya gatal tidak karuan. Bagi anda yang pernah menonton Black Swan dengan Natalie Portman sebagai Nina Sayers, tentu masih ingat adegan ketika ia bercermin membelakangi kaca untuk melihat punggungnya. Ya kira-kira itu yang saya lakukan di tanggal 11 kemarin di cermin besar di kamar mama. Bercermin dengan pose Black Swan. Dalam pikiran saya, pose bercermin seperti ini sexy juga. Kepala menengok dengan perlahan seolah mengintip dari balik bukit bernama bahu kiri. Tapi sayang, apa yang saya lihat bukan punggung mulus Nina Sayers. Bukan. Bukan juga sayap angsa hitam yang dapat membuat tarian saya tampak dramatis saat klimaks iringan lagu klasik Bach seperti Nina. Saya melihat totol-totol merah tidak karuan! Sejak kapan punggung saya punya motif polkadot merah seperti ini. Belum habis rasa terkejut saya menemukan motif itu, rasa gatal kemudian menjalar dengan liarnya seolah tiada hari esok. Di punggung. Di bahu. Di kulit tubuh saya. Saya ingin teriak. Cukup dalam hati.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar "Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus". Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, "Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw". Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik "We should all wear polka dots" dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Polkadot. Terima kasih Afrojack.
Selepas tanggal 11 Februari dari pertama kalinya tercetak motif polkadot merah di tubuh saya, hari ini, tanggal 16 Februari, seperti biasa saya bangun pagi lalu mandi air panas. Sedetik setelah badan saya terguyur sepenuhnya dengan air panas, totol-totol merah itu muncul lagi! Menggerayangi semua kulit yang ada di badan saya. Bisa dibayangkan gatal-gatalnya yang maha dahsyat. Saya masih menggaruk-garuk tubuh saya sesampainya saya di kampus. Motif polkadot yang tadinya cuma motif sudah berubah jadi corak dengan relief naik turun sekehendak hati. Sebut saja bentol. Totol dan bentol. Dua sekawan yang hadir seenaknya di badan saya. Panik, saya semakin menggaruk badan saya dengan kencang namun sedikit enggan karena apa kata orang nanti jika melihat saya loncat-loncat menggapai-gapai punggung. Sungguh rasanya saya hanya ingin melepas semua pakaian saya dan menggaruk kulit saya sampai terlepas dari badan. Polkadot merah sialan!
Kemudian seorang teman saya, Indira Pawitrasari, sekonyong-konyong tanpa bisa saya hentikan, beranjak pergi meninggalkan saya terbengong sendirian di studio profesi lantai 4. Hanya satu pesan terakhir yang sempat saya dengar "Gw cariin obat gatel ya shel ke Alfamart. Kasihan elo ntar garuk-garuk terus". Bingung mau berkata apa. Saya hanya bisa, "Nggak usah dir. Jauh. Udah mau hujan pula. Udah sini aja temenin gw". Namun Indira tetap bersikeras pergi mencarikan obat untuk saya. Saya termenung. Indahnya persahabatan ketika satu-satunya orang yang paling mengerti kesulitan kita adalah sahabat yang sebenar-benarnya. Bukan yang hanya sekedar kenal dan sekedar karena biar-apa-apa-nggak-sendirian.
Indira sudah pergi dan tinggallah saya sendiri menggaruk-garuk badan dengan kuku. Sembari menggaruk sana sini, di kepala saya terputar sebuah lagu. Bukan lagu topeng monyet ataupun keong racun yang eh ngajak tidur ngomong nggak sopan santun. Lagu yang terputar mengiringi tari garukan saya adalah lagu Afrojack yang berjudul Polka Dots. Jika anda penggemar lagu elektronika, pasti tahu dentuman lagu khas Afrojack. Tung tung tutung tung. Bayangkan seolah anda berada di klub malam dengan DJ yang memainkan musik high tempo. Irama lagunya kira-kira seperti itu. Lagu ini tidak mempunyai lirik namun ada voice over seorang wanita di beberapa bagian lagunya yang berbisik "We should all wear polka dots" dan dentuman kembali terdengar. Mengutip dari lagu itu, kita semua seharusnya mengenakan polkadot, saya jadi terkekeh sendiri. Dalam hati saya, mungkin benar juga kata Afrojack, dengan si polkadot merah di badan saya seperti sekarang ini, saya jadi tahu bahwa teman-teman di sekeliling saya ini adalah teman yang paling perhatian yang pernah saya kenal.
Jarang sekali saya diperlakukan sebaik ini karena saya sendiri termasuk orang yang sungkan dengan kebaikan orang lain di sekitar saya jadi seringkali saya menolak diperlakukan baik. Namun begitu, apa yang bisa saya tolak ketika gatal tak berdaya dan seorang sahabat menawarkan bantuannya dengan sedikit memaksa. Satu kata. Terharu. Saya sungguh terharu. Ada Indira yang sengaja membelikan bedak gatal Herocyn dan juga Mirradewi Rianty yang membawakan obat Incidal dari kotak obat di rumahnya. Semoga polkadot ini lekas hilang dari kulit saya. Polkadot merah yang memberi saya pelajaran berharga.
Terima kasih Indira. Terima kasih Mirra. Terima kasih Polkadot. Terima kasih Afrojack.
Subscribe to:
Posts (Atom)
