there was once this girl in reality land who imagine great things that no one would understands
Wednesday, February 16, 2011
Putih itu Merah itu bukan Putih
Kuiris sedikit permukaan kulit lengan yg selalu menempel di bahu kiriku. Katanya terbuat dari tanah. Tapi yg kulihat hanya darah. Merah. Merah itu menetes jatuh ke pangkuan kain putih yang kukenakan malam ini. Dia bilang ingin bertemu denganku tapi tidak, dia lagi-lagi ingkar. “Tiba-tiba ada acara”, dia bilang. Bohong! Temaram lilin dan dentingan sendok garpu sedang mengiring sekulum senyum wanita yg duduk di hadapannya. Pengkhianat bajingan!!! Lelaki biadab!!! Arghhhhhhhhhhhh!!! Seketika, Hening. Semua berhenti menetes. Semua berhenti berdetak. Aku tidak lagi dapat melihat putih. Putih telah menjadi merah. Begitupun aku. Kosong. Mati.
Labels:
Writings
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment